4 Cara Sederhana Menghadapi Masalah Hidup

4 Tips Menghadapi Masalah Hidup secara ISLAM
Pernahkah anda menghadapi satu masalah hidup yang sangat rumit dan menyesakkan dada hingga menusuk ke hati? Jawabannya pasti pernah! Ya, setiap manusia tidak mungkin hidupnya lempeng atau lurus aja seperti jalan tol. Pasti akan ada bebatuan kecil yang menghadang. Dan kita sebagai manusia tidak dapat menghindarinya, tetapi kita diberi kemampuan untuk menghadapinya.

Firman Allah لا يكلف الله نفساً إلا وسعها, bahwa "Allah tidak membebani seseorang diluar kemampuannya". (Al-Baqarah: 286)

Ayat diatas menjelasan bahwa setiap manusia diberikan cobaan yang berbeda-beda sesuai dengan kapasitas, yang tentunya hanya Allah SWT yang mengetahui batasannya.

Berikut ini 4 Cara Sederhana Menghadapi Masalah Hidup, yang insyaAllah dapat membantu :

1. Simpan dan tanamkan di hati kita QS.Al-Baqarah ayat 286, "Allah tidak membebani sesorang diluar kemampuannya..."
Hal ini penting karena kita umat Islam tahu bahwa janji Allah SWT itu pasti! Tidak ada keraguan akan hal itu.

2. Hadapi masalah dengan ikhlas.
Setiap cobaan yang diberikan pasti memiliki tujuan tertentu. Dan tentunya itu demi kebaikan manusia itu sendiri. Cobaan adalah anugerah dari Allah SWT. Karena dimana lagi kita harus belajar tentang arti kehidupan kecuali dari Allah yang menciptakan seluruh kehidupan?

3. Jangan melihat masalah sebagai sesuatu yang negatif, positif thinking aja!
Masalah yang kita dihadapi sebenarnya merupakan sebuah peluang. Ya, suatu peluang untuk meningkatkan keupayaan diri kita dalam menghadapi rintangan serta sebagai suatu indikator untuk dimana kita memfokuskan perhatian kita.
Oleh karena itu hadapilah masalah ini secara tenang dan tanpa ragu sedikitpun kepada Allah. Di saat kita mencari solusi dalam menyelesaikan masalah, di saat itulah sebuah proses pendewasaan hidup akan bermula.

4. Bersabar
Setelah kita melakukan berbagai upaya untuk mengatasi masalah, yang kita harus lakukan selanjutnya adalah bersabar. Serahkan semuanya kepada Allah SWT. Kita back to Shalat, kita ngaji, kita sempurnakan ibadah, kita doa kepada Allah, kita minta solusi yang terbaik dariNya. Karena janji Allah SWT adalah kabar gembira bagi orang-orang yang bersabar.

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوفْ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الأَمَوَالِ وَالأنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah [2]: 155).

4 Tips Menghadapi Masalah Hidup secara ISLAM

Jadi tidak usah bersedih, apalagi putus asa. Biarlah masalah mewarnai hidup kita, apa pun dan sebesar apa pun. Semua itu pasti akan sirna seiring kita memohon solusi kepada Allah dengan tetap melakukan apa yang diperintahNya dan menjauhi segala laranganNya. Karena jika Allah sudah berjanji, mustahil Allah tidak menepatinya, yakinlah!

Kamu Galau? Jangan Khawatir, Allah Bersama Kita!

Cara mengatasi kegalauan hidup
Manusia adalah makhluk yang paling sering dilanda kecemasan atau bahasa kerennya "GALAU". Ketika seseorang dihadapkan pada suatu masalah, sedangkan dirinya belum atau tidak siap dalam menghadapinya, tentu jiwa dan pikirannya akan terguncang dan perkara tersebut sudahlah menjadi fitrah bagi setiap insan.

Allah Taala berfirman, Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kami? (QS. At Taubah: 40)

Ayat di atas mungkin dapat memotivasi kita agar lebih merenungi lagi terhadap setiap masalah apapun yang kita hadapi. Dalam setiap persoalan yang tak kunjung terselesaikan, maka hadapkanlah semua itu kepada Allah SWT. Tak ada satupun manusia yang tak luput dari rasa sedih, tinggal bagaimana kita menghadapi kesedihan dan kegalauan tersebut.

Selain menenangkan jiwa, cobalah untuk bersabar, karena sabar dapat menstabilkan kacaunya akal pikiran akibat beratnya beban yang dihadapi. Membuat pilihan dengan kepala jernih bukan kah lebih bagus? Kita bisa tahu mana pilihan yang terbaik agar tidak merugikan diri kita, keluarga kita, dan juga orang lain.

Allah Taala berfirman, Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar. (Qs. Al-Baqarah 153).

Ketika seseorang menghadapi persoalan yang sangat berat, maka sudah pasti akan mencari sesuatu yang dapat dijadikan tempat mengadu dan mencurahkan isi hati yang selama ini menjadi beban. Allah sudah mengingatkan hamba-Nya di dalam ayat yang dibaca setiap muslim minimal 17 kali dalam sehari :

Hanya kepada-Mulah kami menyembah, dan hanya kepada-Mulah kami meminta pertolongan (QS. Al Fatihah 5)

Kita juga harus percaya, bahwa di setiap kesusahan pasti ada kemudahan. Senang dan Susah itu sepaket. Jadi tidak perlu khawatir kita tidak bahagia. Allah SWT maha adil.

Karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan (Qs Al-Insyirah 5-6)

Cara mengatasi kegalauan hidup
Setiap penyakit pasti ada obatnya
Sholatlah di awal waktu maka insyaAllah kita akan bahagia.
Sedekahlah insyaAllah rezeki kita diperluas.
Perbanyak membaca Al-Qur'an insyaAllah hati kita tidak sempit.
Berpuasalah insyaAllah kita selalu sehat.

Segala penyakit pasti ada obatnya. Dan obat terbaik untuk seorang hamba adalah dengan mengingat Allah SWT.

Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah lah hati menjadi tenteram (Qs Ar-Ra'd 28).

Cantik, Jangan Marah Yah ???

Assalamualaikum...

Adek yg cantik, km itu sebenernya udah cantik juga insya Allah shalehah...

Aamiin

Ada beberpa hal yg aku mau sampein sm km, jangan marah yaa?

1. Km udah cantik, tp harus diinget, cantik itu milik Allah, jd km kembalikan kecantikan km hanya pd Allah.

2. Mulai saat ini, kurangi lalu berhentilah posting2 foto2 km yg cantik di socmed, kyk twitter, fb, WA, BBM, Instagram dll.

Dgn alasan :
- Karna hal tsb sangat mengandung unsur "tabarruj" dan sbg suatu hal dlm menjaga titipan Allah yg km terima klo km tdk melakukan hal2 tsb.

- selain itu klo km tdk melakukan hal2 tsbt, km jg turut membantu ikhwan2 diluar sana utk tdk "ghadhul bashar" yg akan membuat banyak ikhwan tergoda lalu merayu2 km.

2. Lagi2 aku bilang klo km itu cantik, dan akan lebih cantik lg klo km itu membangun dan menanamkan kebiasaan2 sehari2 km yg positif lagi bermanfaat dgn niat "Just For Allah" dan klo bisa ga usah jg km up date aktifitas km di socmed.

3. Jika km merasa ingin menikah, maka persiapkanlah segala sesuatunya.

Mulai dr :
- Perdalam ilmu km tentang pernikahan, karena pernikahan adalah awal sebuah proses perbaikan
diri yg terus menerus hingga Allah mengharuskan membuatkan km rumah di syurga. Bisa dr buku, halaqah majelis2 maupun sekolah pranikah.

- Ilmunya pernikahan terkait dgn lumpur, sumur, dapur, sampai kasur didalam rumah tangga.

- Jika km seorg akhwat yg baru berhijrah, maka bertahaplah dlm belajar, bersabar lalu berdoa agar
Allah selalu menuntun km istiqomah berada di jalan Allah.

4. Buatlah rencana hidup km yg jelas, siapa km, dr mana km, sedang ada dimana km, untuk siapa diri km, dan akan kemana km.

5. Hal2 apa saja yg membuat km jd seorang yg beruntung dipilih menjadi pendamping ikhwan yg terbaik utk membangun keluarga di syurga?

6. Belajarlah mandiri, tdk tergantung pd org tua dlm hal apapun itu agar km terbiasa.

7. Buatlah cv untuk ta'aruf jika km benar2 siap utk menikah lalu berdoalah agar Allah mempertemukan km dgn ikhwan yg tepat yg merupakan jodoh km didunia hingga ke syurga.

Mungkin hanya itu yg hal2 yg mau aku sampaikan sm km, smoga km ga marah yaa???

Wassalamualaikum wr wb


HIDUP ADALAH ANUGERAH

Pada suatu hari ada seorang gadis buta yg sangat membenci dirinya sendiri karena kebutaannya itu. Tidak hanya terhadap dirinya sendiri, tetapi dia juga membenci semua orang kecuali kekasihnya. Kekasihnya selalu ada disampingnya untuk menemani dan menghiburnya. Dia berkata akan menikahi gadis itu kalau gadisnya sudah bisa melihat dunia.

Suatu hari ada seseorang yang mendonorkan sepasang mata kepada gadis itu. Yang akhirnyasi gadis bisa melihat segala hal, termasuk kekasihnya. Kekasihnya bertanya kepada gadisnya itu , ” Sayangggg … sekarang kamu sudah bisa melihat dunia, Apakah engkau mau menikah denganku?”. Gadis itu terguncang saat melihat bahwa kekasihnya itu ternyata buta. Dan dia menolak untuk menikahi si pria pacar-nya itu yg selama ini sudah sangat setia sekali mendampingi hidupnya selama si gadis itu buta matanya. Dan akhirnya si Pria kekasihnya itu pergi dengan meneteskan air mata, dan kemudian menuliskan sepucuk surat singkat kepada gadisnya itu, “Sayangku, tolong engkau jaga baik-baik kedua mata yg telah aku berikan kepadamu”.

Kisah di atas memperlihatkan bagaimana pikiran manusia berubah saat status dalam hidupnya berubah. Hanya sedikit orang yang ingat bagaimana keadaan hidup sebelumnya dan lebih sedikit lagi yang ingat terhadap siapa harus berterima kasih karena telah menyertai dan menopang bahkan di saat yang paling menyakitkan.

Hari ini sebelum engkau berpikir untuk mengucapkan kata-kata kasar ingatlah akan seseorang yang tidak bisa berbicara.

Sebelum engkau mengeluh mengenai cita rasa makananmu, ingatlah akan seseorang yang tidak punya apapun untuk dimakan.

Sebelum engkau mengeluh tentang orang tuamu, ingatlah akan seorang anak yang menangis kepada Allah untuk meminta kesembuhan atas penyakit orang tuanya.

Ketika engkau lelah dan mengeluh tentang sekolahmu, ingatlah akan anak-anak yang menginginkan untuk melanjutkan sekolah, namun tidak memiliki biaya untuk itu.

Hari ini sebelum engkau mengeluh tentang hidupmu, ingatlah akan seseorang yang begitu cepat pergi ke alam kubur dengan masih menyertakan dosanya.

Dan ketika beban hidup tampaknya akan menjatuhkanmu, pasanglah senyuman di wajahmu dan berterima kasihlah pada Allah swt karena engkau masih hidup dan ada di dunia ini.

Hidup adalah anugerah, syukurilah, jalanilah, nikmatilah dan isilah hidup ini dengan sesuatu yg bermanfaat untuk umat manusia.

NIKMATILAH dan BERI YANG TERBAIK DI SETIAP DETIK DALAM HIDUPMU, KARENA ITU TIDAK AKAN TERULANG LAGI untuk waktumu selanjutnya !!!

SEEKOR KIJANG YANG BERBICARA PADA RASULULLAH

Seorang lelaki lewat di sisi Nabi SAW. dengan membawa seekor kijang yang ditangkapnya, lalu Allah Taala (Yang berkuasa menjadikan semua benda-benda berkata-kata) telah menjadikan kijang itu berbicara kepada Nabi SAW :

“Wahai Pesuruh Allah, sesungguhnya aku mempunyai beberapa ekor anak yang masih menyusu, dan sekarang aku sudah ditangkap sedangkan mereka sedang kelaparan, oleh itu haraplah perintahkan orang ini melepaskan aku supaya aku dapat menyusukan anak-anakku itu dan sesudah itu aku akan kembali ke mari. ”

Bersabda Rasulullah SAW:

“Bagaimana kalau engkau tidak kembali kesini lagi?”

Jawab kijang itu:

“Kalau aku tidak kembali ke mari, nanti Allah Ta’ala akan melaknatku sebagaimana Ia melaknat orang yang tidak mengucapkan sholawat bagi engkau apabila disebut nama engkau disisinya.“

Lalu Nabi SAW. pun bersabda kepada orang itu :

“Lepaskan kijang itu buat sementara waktu dan aku jadi penjaminnya.“

Kijang itu pun dilepaskan dan kemudian ia kembali ke situ lagi. Maka turunlah malaikat Jibril AS dan berkata :
“Wahai Muhammad, Allah Ta’ala mengucapkan salam kepada engkau dan Ia (Allah Ta’ala) berfirman: “Demi KemuliaanKu dan KehormatanKu, sesungguhnya Aku lebih mengasihi umat Muhammad dari pada kijang itu mengasihi anak-anaknya dan Aku akan kembalikan mereka kepada engkau sebagaimana kijang itu kembali kepada engkau.”

[Diriwayatkan oleh Abu Na’im di dalam kitab ‘Al-Hilyah’]

Mari mengucap Sallam dan Shalawat pada Rasulullah..

Assalamu Alayka Ayyuhal Nabiyyina Muhammad..

Shallallahu 'alaa habibiika sayyidina Muhammad wa 'alaa alihi wa shahbihi wabarik wasallam..

Aku Sangat Bangga Menjadi Ibu Rumah Tangga

Hebat rasanya ketika mendengar ada seorang wanita lulusan sebuah universitas ternama telah bekerja di sebuah perusahaan bonafit dengan gaji jutaan rupiah per bulan. Belum lagi perusahaan sering menugaskan wanita tersebut terbang ke luar negri untuk menyelesaikan urusan perusahaan. Tergambar seolah kesuksesan telah dia raih. Benar seperti itukah?

Kebanyakan orang akan beranggapan demikian. Sesuatu dikatakan sukses lebih dinilai dari segi materi sehingga jika ada sesuatu yang tidak memberi nilai materi akan dianggap remeh. Cara pandang yang demikian membuat banyak dari wanita muslimah bergeser dari fitrohnya. Berpandangan bahwa sekarang sudah saatnya wanita tidak hanya tinggal di rumah menjadi ibu, tapi sekarang saatnya wanita ‘menunjukkan eksistensi diri’ di luar. Menggambarkan seolah-olah tinggal di rumah menjadi seorang ibu adalah hal yang rendah.

Kita bisa dapati ketika seorang ibu rumah tangga ditanya teman lama “Sekarang kerja dimana?” rasanya terasa berat untuk menjawab, berusaha mengalihkan pembicaraan atau menjawab dengan suara lirih sambil tertunduk “Saya adalah ibu rumah tangga”. Rasanya malu! Apalagi jika teman lama yang menanyakan itu “sukses” berkarir di sebuah perusahaan besar. Atau kita bisa dapati ketika ada seorang muslimah lulusan universitas ternama dengan prestasi bagus atau bahkan berpredikat cumlaude hendak berkhidmat di rumah menjadi seorang istri dan ibu bagi anak-anak, dia harus berhadapan dengan “nasehat” dari bapak tercintanya: “Putriku! Kamu kan sudah sarjana, cumlaude lagi! Sayang kalau cuma di rumah saja ngurus suami dan anak.” Padahal, putri tercintanya hendak berkhidmat dengan sesuatu yang mulia, yaitu sesuatu yang memang menjadi tanggung jawabnya. Disana ia ingin mencari surga.

Ibu Sebagai Seorang Pendidik

Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan bahwa perbaikan masyarakat bisa dilakukan dengan dua cara: Pertama, perbaikan secara lahiriah, yaitu perbaikan yang berlangsung di pasar, masjid, dan berbagai urusan lahiriah lainnya. Hal ini banyak didominasi kaum lelaki, karena merekalah yang sering nampak dan keluar rumah. Kedua, perbaikan masyarakat di balik layar, yaitu perbaikan yang dilakukan di dalam rumah. Sebagian besar peran ini diserahkan pada kaum wanita sebab wanita merupakan pengurus rumah. Hal ini sebagaimana difirmankan Allah subhanahu wa ta’ala yang artinya:

“Dan hendaklah kalian tetap di rumah kalian dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa kalian, hai Ahlul Bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al-Ahzab: 33)

Pertumbuhan generasi suatu bangsa adalah pertama kali berada di buaian para ibu. Ini berarti seorang ibu telah mengambil jatah yang besar dalam pembentukan pribadi sebuah generasi. Ini adalah tugas yang besar! Mengajari mereka kalimat Laa Ilaaha Illallah, menancapkan tauhid ke dada-dada mereka, menanamkan kecintaan pada Al Quran dan As Sunah sebagai pedoman hidup, kecintaan pada ilmu, kecintaan pada Al Haq, mengajari mereka bagaimana beribadah pada Allah yang telah menciptakan mereka, mengajari mereka akhlak-akhlak mulia, mengajari mereka bagaimana menjadi pemberani tapi tidak sombong, mengajari mereka untuk bersyukur, mengajari bersabar, mengajari mereka arti disiplin, tanggung jawab, mengajari mereka rasa empati, menghargai orang lain, memaafkan, dan masih banyak lagi. Termasuk di dalamnya hal yang menurut banyak orang dianggap sebagai sesuatu yang kecil dan remeh, seperti mengajarkan pada anak adab ke kamar mandi. Bukan hanya sekedar supaya anak tau bahwa masuk kamar mandi itu dengan kaki kiri, tapi bagaimana supaya hal semacam itu bisa menjadi kebiasaan yang lekat padanya. Butuh ketelatenan dan kesabaran untuk membiasakannya.

Sebuah Tanggung Jawab

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At Tahrim: 6)


Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang artinya: “Peliharalah dirimu dan keluargamu!” di atas menggunakan Fi’il Amr (kata kerja perintah) yang menunjukkan bahwa hukumnya wajib. Oleh karena itu semua kaum muslimin yang mempunyai keluarga wajib menyelamatkan diri dan keluarga dari bahaya api neraka.

Tentang Surat At Tahrim ayat ke-6 ini, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata, “Ajarkan kebaikan kepada dirimu dan keluargamu.” (Diriwayatkan oleh Al Hakim dalam Mustadrak-nya (IV/494), dan ia mengatakan hadist ini shahih berdasarkan syarat Bukhari dan Muslim, sekalipun keduanya tidak mengeluarkannya)

Muqatil mengatakan bahwa maksud ayat tersebut adalah, setiap muslim harus mendidik diri dan keluarganya dengan cara memerintahkan mereka untuk mengerjakan kebaikan dan melarang mereka dari perbuatan maksiat.

Ibnu Qoyyim menjelaskan bahwa beberapa ulama mengatakan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala akan meminta pertanggungjawaban setiap orang tua tentang anaknya pada hari kiamat sebelum si anak sendiri meminta pertanggungjawaban orang tuanya. Sebagaimana seorang ayah itu mempunyai hak atas anaknya, maka anak pun mempunyai hak atas ayahnya. Jika Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Kami wajibkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya.” (QS. Al Ankabut: 7), maka disamping itu Allah juga berfirman, “Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang berbahan bakar manusia dan batu.” (QS. At Tahrim: 6)

Ibnu Qoyyim selanjutnya menjelaskan bahwa barang siapa yang mengabaikan pendidikan anaknya dalam hal-hal yang bermanfaat baginya, lalu ia membiarkan begitu saja, berarti telah melakukan kesalahan besar. Mayoritas penyebab kerusakan anak adalah akibat orang tua yang acuh tak acuh terhadap anak mereka, tidak mau mengajarkan kewajiban dan sunnah agama. Mereka menyia-nyiakan anak ketika masih kecil sehingga mereka tidak bisa mengambil keuntungan dari anak mereka ketika dewasa, sang anak pun tidak bisa menjadi anak yang bermanfaat bagi ayahnya.

Adapun dalil yang lain diantaranya adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala yang artinya:

“dan berilah peringatan kepada kerabatmu yang dekat.” (QS asy Syu’ara’: 214)

Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma mengatakan bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Kaum lelaki adalah pemimpin bagi keluarganya di rumah, dia bertanggung jawab atas keluarganya. Wanita pun pemimpin yang mengurusi rumah suami dan anak-anaknya. Dia pun bertanggung jawab atas diri mereka. Budak seorang pria pun jadi pemimpin mengurusi harta tuannya, dia pun bertanggung jawab atas kepengurusannya. Kalian semua adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari 2/91)

Dari keterangan di atas, nampak jelas bahwa setiap insan yang ada hubungan keluarga dan kerabat hendaknya saling bekerja sama, saling menasehati dan turut mendidik keluarga. Utamanya orang tua kepada anak, karena mereka sangat membutuhkan bimbingannya. Orang tua hendaknya memelihara fitrah anak agar tidak kena noda syirik dan dosa-dosa lainnya. Ini adalah tanggung jawab yang besar yang kita akan dimintai pertanggungjawaban tentangnya.

Siapa Menanam, Dia akan Menuai Benih

Bagaimana hati seorang ibu melihat anak-anaknya tumbuh? Ketika tabungan anak kita yang usia 5 tahun mulai menumpuk, “Mau untuk apa nak, tabungannya?” Mata rasanya haru ketika seketika anak menjawab “Mau buat beli CD murotal, Mi!” padahal anak-anak lain kebanyakan akan menjawab “Mau buat beli PS!” Atau ketika ditanya tentang cita-cita, “Adek pengen jadi ulama!” Haru! mendengar jawaban ini dari seorang anak tatkala ana-anak seusianya bermimpi “pengen jadi Superman!”

Jiwa seperti ini bagaimana membentuknya? Butuh seorang pendidik yang ulet dan telaten. Bersungguh-sungguh, dengan tekad yang kuat. Seorang yang sabar untuk setiap hari menempa dengan dibekali ilmu yang kuat. Penuh dengan tawakal dan bergantung pada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Lalu… jika seperti ini, bisakah kita begitu saja menitipkannya pada pembantu atau membiarkan anak tumbuh begitu saja?? Kita sama-sama tau lingkungan kita bagaimana (TV, media, masyarakat,…) Siapa lagi kalau bukan kita, wahai para ibu -atau calon ibu-?

Setelah kita memahami besarnya peran dan tanggung jawab seorang ibu sebagai seorang pendidik, melihat realita yang ada sekarang sepertinya keadaannya menyedihkan! Tidak semua memang, tapi banyak dari para ibu yang mereka sibuk bekerja dan tidak memperhatikan bagaimana pendidikan anak mereka. Tidak memperhatikan bagaimana aqidah mereka, apakah terkotori dengan syirik atau tidak. Bagaimana ibadah mereka, apakah sholat mereka telah benar atau tidak, atau bahkan malah tidak mengerjakannya… Bagaimana mungkin pekerjaan menancapkan tauhid di dada-dada generasi muslim bisa dibandingkan dengan gaji jutaan rupiah di perusahaan bonafit? Sungguh! sangat jauh perbandingannya.

Anehnya lagi, banyak ibu-ibu yang sebenarnya tinggal di rumah namun tidak juga mereka memperhatikan pendidikan anaknya, bagaimana kepribadian anak mereka dibentuk. Penulis sempat sebentar tinggal di daerah yang sebagian besar ibu-ibu nya menetap di rumah tapi sangat acuh dengan pendidikan anak-anak mereka. Membesarkan anak seolah hanya sekedar memberinya makan. Sedih!

Padahal anak adalah investasi bagi orang tua di dunia dan akhirat! Setiap upaya yang kita lakukan demi mendidiknya dengan ikhlas adalah suatu kebajikan. Setiap kebajikan akan mendapat balasan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak inginkah hari kita terisi dengannya? Atau memang yang kita inginkan adalah kesuksesan karir anak kita, meraih hidup yang berkecukupan, cukup untuk membeli rumah mewah, cukup untuk membeli mobil mentereng, cukup untuk membayar 10 pembantu, mempunyai keluarga yang bahagia, berakhir pekan di villa. Tanpa memperhatikan bagaimana aqidah, bagaimana ibadah, asal tidak bertengkar dan bisa senyum dan tertawa ria di rumah, disebutlah itu dengan bahagia.

Ketika usia senja, mata mulai rabun, tulang mulai rapuh, atau bahkan tubuh ini hanya mampu berbaring dan tak bisa bangkit dari ranjang untuk sekedar berjalan. Siapa yang mau mengurus kita kalau kita tidak pernah mendidik anak-anak kita? Bukankah mereka sedang sibuk dengan karir mereka yang dulu pernah kita banggakan, atau mungkin sedang asik dengan istri dan anak-anak mereka?

Ketika malaikat maut telah datang, ketika jasad telah dimasukkan ke kubur, ketika diri sangat membutuhkan doa padahal pada hari itu diri ini sudah tidak mampu berbuat banyak karena pintu amal telah ditutup, siapakah yang mendoakan kita kalau kita tidak pernah mengajari anak-anak kita?

Lalu…

Masihkah kita mengatakan jabatan ibu rumah tangga dengan kata ‘cuma’? dengan tertunduk dan suara lirih karena malu?

Wallahu a’lam


Penulis: Ummu Ayyub
Muroja’ah: Ust Abu Ahmad


Sebegitu dahsyatnya kah Cinta....??

Membuat orang yg waras menjadi Gila
Membuat yang sehat menjadi sakit

Membuat yang ceria menjadi pemurung
Membuat yang bahagia menjadi berduka

Tidak kah kau sadari didunia ini tiada yg abadi...
Lihatlah matahari slalu ikhlas pergi demi datang nya sang rembulan...

Mengapa kau biarkan hatimu yg bening menjadi keruh.
Mengapa kau biarkan jiwamu yg tenang menjadi gundah
Mengapa kau biarkan qolbumu yg damai menjadi pilu.

Sebegitu dahsyatkah cinta itu,sehingga jiwa yg tak ikhlas seumur hidup akan menderita...

Mengapa tak ridho dengan ujian-NYA.

Begitu rapuhkan hati manusia demi sebuah kata cinta yg pada hakekatnya..hanya sementara...namun membuat hidup seakan menjadi mati.


Bukankah ikhlas itu melegakan...
Bukankah tenang itu menyejukkan...
Bukankah sabar itu akan melapangkan....

Mengapa tidak kau tempatkan pemilik segala cinta itu lebih utama dalam hidupmu.

Maka tempatkanlah cinta pada tempat semestinya.

Agar cinta dihatimu bukan membuatmu merana dan kecewa,ataupun cinta yang membuat seluruh hidupmu tidak sia-sia.

Karena kau lebih mencintai ALLAH lebih berharga dari dunia dn isinya.

IBADAH VS HOBI



Bismillahir-Rahmaanir-Rahim

Sedekah VS Belanja di Mal....
 

Lucu ya, uang Rp 20.000-an kelihatan begitu besar bila dibawa ke kotak amal masjid, tapi begitu kecil bila kita bawa ke supermarket. atau mall Jujur saja, kalimat ini begitu kena banget (khususnya kepada saya sendiri).

Gimana nggak, kadang seringnya di antara kita ngisi kotak amal di masjid dengan uang recehan. Makanya, kalo pas kotak amal diedarin ke jamaah yang duduk berderet rapi di shaf-nya masing-masing suka terdengar bunyi nyaring tanda uang recehan jatuh menimpa benda keras (apalagi kalo kotaknya terbuat dari kaleng, lebih keras bunyi gemerincingnya)

Mungkin uang itu pecahan seratus, lima ratus, atau seribu rupiah yang logam. Tapi bukan berarti nggak boleh beramal dengan jumlah seperti itu. Jika ikhlas, insya Allah dapet pahala juga dong.

Begitu pun sebaliknya, meski yang dimasukin pecahan lima puluh ribu tapi nggak ikhlas kan sayang juga ya? Mendingan ngasih lima puluh ribu dan ikhlas kan? Hehehe .. itu sih, bagus banget atuh ya.

Terlepas dari nilai “ikhlas”, kita coba renungkan aja dikit ya, betapa kita masih merasa “pelit” untuk bersedekah. Padahal itu buat kita juga amalannya disisi Allah.

Tapi, kita harus merasa “royal” kalo jajan or belanja di mal. Bawa uang 50 ribu rupiah aja serasa masih kurang. Iya nggak? Kalo saya pernah ngerasa demikian.

Astaghfirullah … Semoga kita, bisa seperti Abdurrahman bin ‘Auf dan sahabat Rasul lainnya yang seperti nggak sayang sama harta. Mereka sedekahkan hartanya untuk urusan dijalan Allah dengan sangat banyak (menurut kita).

Ngaji VS Nonton Sepakbola ....

Lucu ya, 45 menit terasa terlalu lama untuk dengerin pengajian, tapi betapa pendeknya waktu itu untuk nonton pertandingan sepakbola Yups, memang kadang lucu abis, kalo dengerin pengajian mah rata-rata dari kita baru lima menit berlalu aja mata kita udah merem-melek. Ngantuk! Apalagi kalo sampe harus 45 menit, wah jarang-jarang deh yang bias bertahan dengan penuh semangat dan aktif dengerin dan bertanya kepada nara sumber pengajian.

Tapi kalo kita nonton pertandingan sepakbola ditelevisi, waktu “setengah main” itu terasa pendek banget. Kita terhipnotis oleh aksi bintang-bintang lapangan hijau pujaan kita. Kita pun betah menikmatinya. Nggak terasa, 45 menit berlalu
singkat banget. Lucu ya? ***

Doa VS Ngobrol ...

Lucu ya, seringnya kita susah merangkai kata untuk dipanjatkan saat berdoa kepada Allah SWT, tapi betapa mudahnya cari bahan obrolan bila ketemu teman dan kata-kata dari mulut kita begitu lancar mengalir. Hmm … abis shalat aja, kadang banyak di antara kita yang buru-buru pulang dari masjid atau mushala. Berdoa seperlunya dan mungkin doanya monoton alias yang diucapkan yang itu-itu aja (bosen nggak sih?).

Okelah, mungkin di antara kita ada keperluan sehingga begitu selesai shalat berjamaah, berdoa sebentar dan keluar dari masjid. Nggak apa-apa, karena sebetulnya berdoa sunnah hukumnya.

Cuma, di sini kita sedikit aja merenung dan evaluasi diri : “Apa iya kalo kita berdoa meminta kepada Allah begitu singkatnya? Begitu buru-burunya? Dan nggak pandai merangkai kata dalam berdoa untuk ‘memikat’ Allah SWT?”

Emang iya sih, Allah Maha Tahu apa yang diinginkan hamba-Nya dalam berdoa, tapi adabnya kan kita kudu sopan. Wong sama orang aja kita sopan dan menghargai. Iya nggak? Tapi lucunya pas kita ngobrol bareng teman-teman, ada beban dan lepas aja, gitu. Lain kali ye hawanya? Lucu juga tuh. ***

Sepakbola VS Shalat ....

Lucu ya, betapa serunya perpanjangan waktu dipertandingan sepakbola favorit kita, tapi betapa bosannya kita bila imam shalat tarawih bulan Ramadhan kelamaan bacaannya.

Eh, jujur aja nih, terutama kalo nonton sepakbola dipertandingan final. Kalo hasilnya seri di waktu normal, maka diadakan perpanjangan waktu. Nah, banyak di antara kita yang betah menikmatinya. Apalagi kalo sampe nontonnya berjamaah di kafe. Dijamin seru abis.

Tapi, kalo bacaan ayat dari sang imam pas sholat tarawih panjang dikit aja, kita langsung pegel-pegel, dan nekat ngejatuhin ‘talak tiga’ untuk nggak shalat di masjid itu lagi kalo imamnya orang tersebut.

Walah? Itu sebabnya, masjid or mushala yang melaksanakan shalat tarawih berjamaah dengan imam shalatnya yang biasa ngebut dengan kecepatan tinggi dalam membaca ayat, pasti membludak jamaahnya. Ckckck .. betapa banyak dari kita yang pengennya instan dan serba cepat dalam hal ibadah. ***

Baca al-Qur’an VS Baca Novel ....

Lucu ya, susah banget baca al-Qur’an 1 juz saja, tapi baca novel best sellers 100 halaman pun habis dilalap dalam sekejap dan kita merasa enjoy. Hihih i.. iya juga ya? Waktu sekolah dulu saya bareng temen-temen pernah baca Wiro Sableng yang judulnya “Petaka Gundik Jelita” dan “Lima Iblis dari Nanking” antara 1 sampe 2 jam.

Padahal besoknya mo ujian kimia. Baca al-Qur’an? Hmm .. satu halaman kayaknya udah merasa “beruntung” deh. Ckckck … kenapa ya? Lucu sekaligus sedih kalo mengenang ini.

Rahasianya apa? ..

Mungkin kalo bacaan al-Qur’an cepet bosen karena nggak ngerti artinya. Mungkin juga. Eh, tapi ada juga teman yang asyik banget baca Harry Potter edisi bahasa Inggris-nya sampe berjam-jam kok. Ya, kita sih khusnudzan saja, mungkin juga baca al-Qur’an pun doi sanggup berjam-jam dan berjuz-juz.

Tapi umumnya, kita suka cepet bosen kan baca al-Qur’an lama-lama? Lebih sregep baca novel, baca komik, atau lainnya.

Eh, bukan berarti nggak boleh lho. Silakan aja baca novel. Ini juga sekadar renungan, bahwa ternyata kita lebih susah dan lebih banyak malasnya untuk baca al-Qur’an ketimbang baca bacaan lainnya. Tul nggak? ***

Konser Musik VS Shalat Jum’at ...

Lucu ya, orang-orang pada berebut untuk dapetin tempat di barisan paling depan ketika nonton konser musik, tapi berebut cari shaf paling belakang bila shalat Jum’at agar bisa cepat keluar.

Coba deh tengok acara konser musik di televisi, banyak orang rebutan untuk mendapatkan ’shaf’ terdepan biar bisa ngelihat dengan jelas bintang pujaannya, syukur-syukur kalo sampe bisa salaman.

Kalo pun harus bayar, banyak di antara kita yang rela ngeluarin duit untuk nebus tempat strategis di arena konser. Tapi pas shalat Jum’at mah, nyari tempat dishaf paling belakang biar cepet keluar, atau paling nggak nyari dinding or tiang untuk nyender. Lucu ya? ***

Dakwah VS Gossip ...

Lucu ya, susahnya orang diajak untuk partisipasi dalam dakwah, tapi mudahnya orang berpartisipasi dalam menyebar gossip. Ckckck… untuk ngajak dakwah susahnya setengah hidup. Alasannya macem-macem. Entah dengan alasan karena belum cukup ilmu, atau karena malu.

Sehingga bikin lidah kelu. Tapi begitu ada yang ngomporin untuk ngegossip, lidahnya langsung fasih dan ikut nyebarin lagi. Wuih, aneh ya? Lucu ya? Padahal, tentu saja, nilai perbuatannya lain banget. Kalo dakwah insya Allah dapet pahala, tapi ngegossip? Selain dibenci orang, juga dibenci Allah SWT.

Amit-amit deh. Tapi, kenapa banyak di antara kita yang hobi ngegossip ketimbang semangat dakwah? Semoga menjadi renungan…***

Media Massa VS al-Qur’an ....

Lucu ya, kita begitu percaya banget pada apa yang disampaikan media massa, tapi kita sering mempertanyakan apa yang disampaikan al-Qur’an. Jujur saja, media massa saat ini menjadi salah satu kekuatan untuk melakukan perubahan sosial, politik, ekonomi dan sebagainya.

Banyak dari kita yang percaya begitu saja dengan apa yang disampaikan media massa. Kasus2 peledakkan bom, media massa hampir di seluruh dunia selalu langsung “menuding” Islam dan kaum muslimin berada di balik serangan tersebut.

Eh, kita yang baca, banyak juga yang kemudian terprovokasi dan ikut-ikutan menjatuhkan vonis kepada Islam dan umatnya. Apa nggak bahaya banget tuh? Tapi kita, kaum muslimin, ada juga yang masih mempertanyakan apa yang disampaikan oleh al-Qur’an.

Isinya diutak-atik dan dipersepsi sendiri demi keuntungan dan tujuan tertentu. Kebalik-balik memang. Padahal, dalam surat al-Baqarah ayat 2 saja Allah SWT sudah menjamin bahwa al-Qur’an itu “laaroiba fiihi” alias tidak ada keraguan di dalamnya. Nggak cuma itu, ayat tersebut melanjutkan (yang artinya) : “Petunjuk bagi mereka yang bertakwa.”

Yups, al-Qur’an itu pasti kebenarannya, dan sekaligus petunjuk bagi mereka yang bertakwa. Jadi, mengapa harus mempertanyakan lagi apa yang disampaikan Allah dalam al-Qur’an?

Tapi dalam waktu bersamaan, kita lebih percaya kepada media massa (bahkan ada yang sampe nggak perlu ngecek kebenarannya), padahal nggak jarang isinya berupa ‘kabar burung’ dan juga informasi yang sesat dan menyesatkan. ***

Surga Pengen, Beramal Ogah ....

Lucu ya, pengen masuk surga, tapi ogah beramal. Hmm .. ini sih bukan hanya lucu, tapi juga aneh bin ajaib. Emangnya surga gratis? Nggak lha yauw. Kita-kita aja masih was-was, khawatir amalan baik selama ini nggak keterima karena mungkin nggak ikhlas. Lebih sedih lagi seharusnya jika kita berharap surga tapi nggak pernah (atau sedikit) beramal baik.

Sobat muda muslim, banyak di antara kita yang kepengen masuk surga, tapi diminta untuk shalat aja susahnya setengah mati.

Banyak juga di antara kita yang pengen dapetin surga-Nya, tapi diminta untuk taat dan patuh sama ajaran-Nya aja ogah. Itu sih sama artinya ngarepin dapet uang pensiun tapi tanpa kerja selagi usia produktif.

Lucu dan aneh banget kan? Pengen masuk surga tapi tanpa beriman dan tanpa beramal shaleh, kira-kira mungkin nggak? Mimpi kaliii yeee!

Ini sedikit renungan aja buat kita semua. Semoga kita mulai berbenah dalam hidup ini. Mumpung masih muda. Selagi mudah untuk melakukan berbagai amal kebaikan, jangan sia-siakan waktu kita.

Kita bisa berbuat lebih banyak. Karena kita nggak pernah tahu kapan kita dijemput oleh Malaikat Izrail untuk menghadap Allah SWT dan mempertanggung-jawabkan perbuatan kita selama di dunia.

Mumpung masih ada waktu, sebisa mungkin kita mengumpulkan banyak amal baik untuk bekal di akhirat kelak. Rasulullah SAW telah bersabda : “Bersegeralah menunaikan amal-amal kebajikan.
Karena, saatnya nanti akan datang banyak fitnah, bagaikan penggalan malam yang gelap gulita.

Betapa bakal terjadi seseorang yang di pagi hari dalam keadaan beriman, di sore harinya ia menjadi kafir.

Dan seseorang yang di waktu sore masih beriman, keesokan harinya menjadi kafir. Ia menjual agamanya dengan komoditas dunia.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Semoga kita semua dimudahkan oleh Allah Ta’ala untuk melakukan amalan yang baik sesuai ajaran Islam. Ditanamkan dalam hati kita untuk gampang menerima kebenaran dan mengamalkannya. Semoga. -:)

LANGITPUN MENANGIS UNTUKMU



Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ...“Berapa jam yang telah kita habiskan dari waktu kita untuk duduk didepan komputer, notebook, netbook, blackberry dalam sehari ? Coba dihitung, jika satu hari 24 jam, dan kita tidur sekitar 6-8 jam, berarti tinggal 16-18 jam waktu yang bisa kita manfaatkan.

Dan coba bandingkan, berapa menit yang kita lalui dari 16-18 jam itu untuk bersama NYA ? jika kita hanya menghabiskan 5 menit tiap shalat, berarti sehari hanya 25 menit. Jika ditambah shalat sunat 5 menit lagi, maka 30 menit. Bayangkan ! hanya 30 menit dari 16-18 jam saat sadar kita. Betapa tidak adilnya kita pada usia kita yang kita cintai seakan kita akan hidup selamanya,”

Kata2 Andita itu masih terngiang ditelingaku. Kami berempat adalah teman akrab sejak kuliah. Teman2 menyebut kami si manis manja group. Tapi meskipun diberi julukan manis manja group, tidak ada yang manja diantara kami.

Soraya gadis tercantik diantara kami, masih keturunan mesir. Kulitnya yang putih, tinggi langsing, dengan rambut yang bergelombang panjang, pantas menjadikannya foto model.

Tapi Soraya minta ampun juteknya, sangat cerewet dan perfeksionis. Dia rajin membaca, tapi sebenarnya tingkat kecerdasannya tidak tinggi amat, karena jika tidak belajar, dia benar2 seperti katak dalam tempurung, hah ? hoh ? ooohhh gitu ?

Andita, berwajah manis, bulat, putih, wajahnya khas sekali seperti wanita jawa, seperti ibu Kartini. Namun rambutnya pendek, tomboy, tingginya sedang, cukup berisi tubuhnya, karena rajin naik gunung, dan main basket. Sebenarnya dia paling cerdas, jarang belajar, tapi selalu cum laude. Kalau menjelaskan tentang sesuatu sangat detail, dan senang menganalisa segala sesuatu.

Karin, cantik, lembut, berkulit kecoklatan, tampangnya mirip2 gadis amerika latin yang sensual. Banyak penggemar, karena rajin tebar pesona. Suka cuek, dan jarang belajar.

Karena cowok2 akan datang dan berebut untuk mengajarkan tentang mata kuliah sesuatu untuknya. Dan aku tahu, sebenarnya Karin sudah mengerti, karena dia cukup cerdas, tapi wajahnya yang selalu seakan2 polos dan belum mengerti, membuat senang para cowok itu yang merasa menjadi superior didepan Karin.

Aku sendiri, bernama Jelita, padahal aku sama sekali tidak merasa Jelita. Sehingga aku sering protes pada orang tuaku kenapa aku diberi nama Jelita. Padahal aku bertampang paling biasa2 saja, diantara kami berempat. Mataku memang kecoklatan, karena ayahku bermata coklat.

Tapi kulitku juga kecoklatan cenderung gelap. Tulang pipiku tinggi, dan hidungku tidak terlalu mancung. Yang membuat wajahku agak unik adalah karena kedua bola mataku berjarak agak jauh dibanding kebanyakan orang. dan alis mataku sangat tebal, sehingga semua teman mengatakan wajahku sangat spesial dan berkarakter.

Aku lumayan cerdas, kalau diranking dari kami berempat, aku dibawah Andita. Meskipun aku tidak pernah cum laude seperti Andita, tapi aku cukup terkenal, karena paling suka berorganisasi.

Persahabatan kami tidak putus meskipun kami sudah selesai kuliah sejak 10 tahun lalu. Soraya memutuskan menjadi dokter spesialis kulit, dan sekarang dia menjadi salah satu dokter kebanggaan Fancy clinic, klinik kecantikan yang terkenal di ibukota. Dia sudah menikah dengan pengusaha terkenal, tapi menolak punya anak, karena katanya akan mengganggu bentuk tubuhnya yang sudah menawan.

Andita menghilang, dan hanya menjadi dokter umum, padahal dulu dia yang paling cerdas. Sejak 5 tahun lalu dia ikut suaminya tugas ke Malaysia, anaknya 5 !

Karin, justru yang belum menikah. Padahal dulu yang paling sering gonta ganti pacar adalah Karin. Dia menikmati jadi dokter spesialis Obstetri Ginekologi. Kesibukannya membuatnya tidak lagi tertarik untuk hidup berbagi rupanya.

Aku, hanya mengambil S2 manajemen RS, tidak meneruskan spesialis, karena malas jaga malam. Suamiku seorang dokter bedah yang cukup sibuk, sehingga aku memutuskan untuk lebih punya waktu banyak dengan anak2ku yang berjumlah 2 orang.

Setelah lulus, kami rajin bertemu 3 bulan sekali, kemudian 6 bulan sekali, lama2 setahun sekali. Dan sekarang sejak Andita ke Malaysia, kami juga tidak pernah kumpul2 lagi.

Dan sebulan lalu, tiba2 Andita muncul di Jakarta dan mengajak bertemu. Meskipun aku bertiga dengan Soraya dan Karin, jarang bertemu spesial, tapi pada even2 tertentu, seperti kongres atau reuni angkatan kecil2an, masih suka bertemu.

Andita begitu berubah, dia begitu cantik dengan jilbab panjangnya, bajunya gamis coklat. Warna kesayangannya. Kami terkejut melihatnya berubah. Dia yang paling tomboy bisa berubah seperti ini, dan punya anak 5. Dia yang paling cerdas, memutuskan hanya menjadi dokter umum, dan tidak mengambil spesialisasi.

Aku tertegun. Soraya langsung protes, ” Ngapain sih pake jubah kayak gitu, Ta ? gak modis tahu ?!”

Karin dengan santainya, berujar ” kesambet dimana, Ta ? Malaysia ? hati2 lho jangan ikut2an kelompok macem2, ntar ditangkep ”

Andita hanya tersenyum manis, ” Memang kenapa dengan bajuku ? aneh ?”

Masalah itu kemudian tidak menjadi topik utama, karena kami demikian rindu padanya. Kami saling bercanda, bernostalgia. Tapi memang tidak sepenuhnya konsentrasi.

Soraya asyik dengan blackberrynya, Karin asyik dengan netbooknya dan chatting entah dengan pria mana lagi. Aku sendiri bolak balik buka blackberry karena RS tempatku bekerja sedang akreditasi.

Andita mengalah, ketika kami sedang asyik dengan dunia kami. Dan tiba2 pertanyaan itu mengemuka, “Cintakah kalian pada usia kalian ?” tanya Andita.

Kami serempak bertanya, ” kenapa sih ?”

” Aku cuma melihat, teknologi, ternyata membuat kita menjadi berjarak. Padahal justru teknologi mengaku membuat komunikasi kita menjadi unlimited,” dia menghela nafas.

” Berapa jam kita menghabiskan waktu kita untuk dunia, dan berapa menit kita menghabiskan waktu kita untuk bersamaNYA ?”

Kami terdiam, aku menghitung dalam seminggu ini aku sudah 3x tidak shalat subuh karena kesiangan.

” Apa sih tujuan kita hidup didunia ini ? menjadi dokter adalah anugerah terindah, karena tanpa mengeluarkan biaya, modal, asal ikhlas, kita sudah beribadah menolong orang lain. Betapa sayangnya, amal ibadah horizontal ini, tidak diikuti ibadah vertikal kepadaNYA? Apa yang kita lakukan saat terjaga ? kemana larinya hati jika sendiri ?

Apakah jika ada cobaan saja kita baru ingat padaNya ?”

Dia melanjutkan, ” Pada saat kita ke pemakaman, apa yang terlintas dikepala ? sekedar sedih 1-2 jam, kemudian asyik lagi dengan dunia kita. Tidakkah kita berfikir, bahwa kita akan menyusul kelak? Terbaring sendiri menyatu dengan tanah, tidak ada suami, anak2, orangtua, sahabat. hanya amal kita yang menemani.”

Hari itu diakhiri dengan renungan indah dari Andita, yang cukup menyentak nurani kami. Ya, berapa menit untukNYA, dan berapa belas jam untuk dunia ?

Aku bisa seharian chatting di facebook, milis, daripada ngajarin anak2 belajar. Padahal pelajaran Tahfidz anakku menurun semester ini. Aku memasukkannya ke sekolah islamic internasional, karena aku tidak mau repot ngajar dia sholat dan mengaji.

Tapi, beberapa hari kemudian aku kembali disibukkan dengan pekerjaanku sebagai direktur pelayanan medik, RS terkenal, mahal, hebat dan Megah di Jakarta. Renungan indah dari Andita pun menguap seperti embun yang hilang ketika sinar matahari tiba.

*********
Pagi ini aku bagaikan mendengar petir disiang bolong, ketika telepon Soraya dengan isak tangisnya menyerbu pagi, dan membuatku harus mencubit tanganku berulang kali untuk meyakinkanku bahwa ini bukan mimpi.

” Kamu kemana aja dari semalam ? aku telepon tidak diangkat, telepon kerumah tidak ada. Suamimu pun tidak ada dan tidak angkat telepon. Aku sekarang di Jogja, di RS PKU Muhamadiyah. Andita masuk ICU, sudah tidak sadar. Dari semalam aku sudah disini bersama Karin.”

Aku segera terbang ke Jogja, dan sepanjang perjalanan airmataku tidak bisa berhenti menetes. Aku, si cengeng Jelita, yang selalu sangat sensitif. Aku masih ingat ketika aku dipaksa memutuskan cintaku oleh Soraya dan Karin, karena kekasihku selingkuh, aku menangis selama 2 hari 2 malam.

Ditemani 3 sahabatku. Soraya dan Karin, mengatakan betapa bodohnya aku menangisi laki2 yang tidak pantas. Hanya Andita yang membelai lembut rambutku dan mengatakan, ” Allah sayang sekali pada kalian, sehingga menjaga kalian untuk terhindar dari dosa yang mungkin bisa saja terjadi dalam hubungan kalian.

Engkau adalah sahabatku yang cantik dan baik hati, Rangga juga pemuda yang baik hati.

Tapi Allah punya simpanan buat kalian masing2 nanti, jodoh yang terbaik untuk kalian berdua. Kalau ternyata Rangga adalah jodohmu, pasti kalian akan dipertemukan lagi, dalam ikatan yang lebih di ridhoiNYA”

Ah, Andita …
Sudah setahun ini engkau tinggal di Jogja, dipesisir gunung kidul menjadi dokter umum di daerah yang gersang, kering dan miskin, tapi kami sama sekali tidak tahu.

Dan sebulan lalu saat pertemuan kita yang terakhir, Kami sama sekali tidak menanyakan apa yang terjadi padamu selama 5 tahun ini, tinggal dimana sekarang, apa kabar anak2mu, dan kenapa tubuhmu sangat kurus.

Kami malah asyik bercerita tentang kehidupan kami masing2 selama 5 tahun ini. Soraya asyik bercerita dengan pasiennya yang sangat banyak dan rela antri untuk menunggu 3 minggu sekedar ingin berkonsultasi tentang jerawat dipipinya.

Karin asyik menceritakan bahwa dia sekarang menjadi salah satu dari 4 ahli spesialis wanita yang mendalami endokrinologi reproduksi, bayi tabung, yang menjadi kebanggaan negeri ini, yang sering dipanggil untuk berbicara di forum internasional, yang bertangan dingin, dan banyak pasangan yang berhasil memiliki keturunan karena berobat padanya.

Dan aku si ahli marketing RS yang selalu mempunyai ide original dan innovatif, yang diperebutkan oleh manajemen Rumah sakit2 terkenal.

Kami sama sekali tidak bertanya apapun tentang dirimu !
Seperti biasanya engkau hanya menjadi pendengar yang baik, tersenyum dan melontarkan kalimat2 yang menyejukkan hati.

Aku mendapatinya, terbaring tidak sadar, dengan wajah putihnya yang sekarang tampak tirus. dengan ventilator untuk membantu pernafasan dan jantungnya.

Kenapa Andita ? aku menangis dan memelukmu, ada apa sahabatku ?

Soraya kehilangan sifat perfeksionismenya, dia tampak pucat, tidak berdandan, dia terus membaca Yasin. Karina duduk, diam ditepi tempat tidur Andita, wajahnya mendung penuh duka, dia memeluk si kembar laila dan laili, bungsu dari Andita yang baru berusia 2 tahun.

Suami Andita memeluk kaki andita dan terus menangis.

Kedua orang tua Andita yang sudah tampak renta terlihat tegar dan membacakan Yasin di ujung tempat tidur.

Andita terlahir dari keluarga sederhana di Bantul, Jogjakarta. Kedua orang tuanya guru SD. Dia anak pertama dari 7 bersaudara. Dia berusaha menjadi contoh buat adik2nya. Masa SMP dan SMAnya di kota Jogja, dan setiap pagi dan petang, dia mengayuh sepedanya puluhan kilometer untuk menuntut ilmu.

Kecerdasannya mengirimnya ke sekolah kedokteran di Jakarta dengan beasiswa.

Meskipun dari daerah, dan bahasa jawanya sangat kental, dia tidak pernah minder. Kami semua menyayanginya. Dia menyukai alam, dan sering bepergian naik gunung. Tidak banyak bicara, tapi sekali bicara, begitu tenang dan menyejukkan.

Selama kami bersahabat, 3x kami pergi kerumahnya didesa untuk berlibur. Keluarganya sangat sederhana dan penuh keikhlasan. Sambil kuliah dia masih sempat bekerja menterjemahkan buku2 bahasa inggris untuk kedokteran, dan kadang2 memberikan les inggris untuk anak2 SD dan SMP. Uangnya dikirimkan untuk sekolah adik2nya.

Soraya bercerita sambil terisak diluar kamar, kami berpelukan dan tidak berhenti menangis.

2,5 tahun lalu saat hamil si bungsu kembar, dia terkena kanker payudara. Seharusnya kandungannya digugurkan, karena akan mempengaruhi progresivitas dari kanker payudaranya. Tapi Andita menolak dan memilih meneruskan kehamilannya. Setelah bungsunya lahir, dilakukan operasi pada payudaranya, namun stadiumnya sudah terlanjur memburuk.

Kemotherapinya sudah selesai. Setahun lalu, suaminya minta izin untuk menikah lagi, Andita mengabulkannya, dengan syarat dia ingin pulang ke Indonesia membawa anak2nya. Suaminya mengizinkan Andita pulang. Andita memilih untuk berpisah karena khawatir dia tidak lagi bisa ikhlas melayani suaminya.

Dia merawat kelima anaknya di desa, menjadi dokter umum, pasiennya boleh bayar jika mampu, tidak bayarpun tidak apa2. 3 bulan lalu, sakit kepala yang terus menderanya, membawanya kembali pada kenyataan bahwa sudah terjadi metastasis ke otak.

Dan kami, yang mengaku sahabat terbaiknya, sama sekali tidak tahu apa yang terjadi padanya.

Sebulan lalu dia datang menemui kami, sebenarnya ingin mengatakan bahwa dia kesulitan keuangan untuk operasi, terjadi beberapa opini yang berbeda dari dokter bedah syaraf di Jogja, sebagian mengatakan tumor primer, sebagian mengatakan metastasis. Sehingga ada yang menganjurkan untuk operasi, ada yang mengatakan hanya perlu di kemotherapi ulang.

Tapi dia tidak sanggup mengatakannya pada kami, Adiknya mengatakan dia pulang dengan tangan hampa namun tersenyum, “aku tidak sanggup mengganggu kebahagiaan sahabat2ku dengan ceritaku dan kesulitanku.”

Aku menyesali kebodohanku, padahal pertanyaan itu sudah diujung lidahku, “kenapa sekarang kamu kurus sekali, Dita?” tapi aku tidak bertanya dan malah asyik kembali bercerita.

Betapa sulitnya untuk menjadi pendengar, tapi Andita telah sabar menjadi pendengar kami, meskipun dia sedang sakit dan membutuhkan bantuan.

Jangan pergi, Andita, engkau sahabat terbaik kami, maafkan kami...

Engkau yang melindungi Soraya saat dia ketahuan mencontek ujian histologimu, soraya panik dan belum sempat belajar, namun engkau mengatakan engkau yang tidak bisa dan mencontek pekerjaan Soraya.

Andita yang pemberani, dan menghajar laki2 yang sengaja menghimpit Karin di bis. Andita yang selalu bisa mengerti aku yang sering menangis meskipun hanya akibat masalah2 sepele.

jangan pergi, Andita… Kami sangat mencintaimu….

*********
Langit sangat mendung seakan berduka, penghuni langit menangis mengantar kepergianmu.

Siapakah engkau, Andita ? apa amalan yang engkau bawa, sehingga engkau pergi dihari Jumat, hari terbaik. Hari dimana bumi diciptakan, hari dimana nabi Adam diciptakan dan hari dimana nabi Adam meninggal.

Ratusan orang men-shalat-kan jenazahmu, ratusan orang mengantar kepergianmu. Padahal engkau hanyalah wanita kurus yang terbungkus jilbab panjangmu dan gamis, yang mencerminkan kebersahajaanmu.

Engkau bukan Soraya, dokter spesialis kulit terkenal yang cantik dan modis, yang kehadirannya membuat iri para wanita lain. Yang pasiennya sangat banyak dan rela antri.

Engkau juga bukan Karin, si dokter ahli kandungan yang bertangan dingin, yang menjadi pujaan pasien2nya yang ingin punya keturunan, dan aset berharga yang dimiliki negeri ini.

Engkau bukan Jelita, yang kemampuan strategi pemasarannya mengantarkan pada posisi yang paling diinginkan dokter2 ahli manajemen Rumah Sakit, menjadi salah satu direktur pelayanan medik RS terkenal, mahal dan megah di Ibukota.

Amalan apa yang engkau bawa, sahabatku, sehingga wajahmu bersinar cantik saat kepergianmu, kembali kepadaNYA ?

Kami sungguh iri padamu, yang selalu ikhlas, dan berhati putih…

Selamat jalan, sahabat terbaik kami…. Kami berjanji akan menjaga kelima malaikat kecilmu ...

Selamat jalan jiwa yang tenang dan diridhoiNYA. ...

Jakarta, 6 April 2009

-Botefilia -

Wallahu’alam bishshawab, ..

MAAFKAN AKU, DUHAI ISTERIKU TERCINTA



Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ... Kutatap wajah isteriku tercinta yang sedang tertidur pulas. Terlihat jelas guratan rasa lelah diwajahnya.

Yaa, memang isteri sering bercerita betapa akhir-akhir ini dia merasa begitu letih. Perjalanan menuju lokasi kerja di bilangan Depok yang memakan waktu cukup lama. Belum lagi bila tiba dikantornya sudah banyak nasabah yang datang, meskipun jam layanan belum dibuka. Maka tak jarang isteriku memajukan aktifitas pekerjaannya.

Jika ternyata antrian nasabah terus berlanjut sampai siang atau bahkan sore hari, maka selama ini pula isteriku tak merasakan nikmatnya ‘kunyahan nasi atau sekedar cemilan sekalipun’. Isteriku memang bekerja di jasa pelayanan bidang keuangan.

Kebetulan dia memiliki posisi yang strategis. Maka tanggung jawabnya begitu besar terhadap layanan dan kepuasan nasabah.

Tak terasa air mataku berlinang kecil membasahi pipi. Rasa sayangku kepada isteriku bertambah besar. Ingin rasanya aku memeluknya dengan erat serta mengucapkan kata cinta yang tulus dan sepenuh hati. Namun niat itu ku-urungkan, khawatir hal itu justru akan mengagetkan atau mengurangi waktu istirahatnya.

Pikiranku menerawang pada peristiwa tadi siang, 11.02.2007. Sambil berbisik Isteriku mengajakku ke dalam kamar. Hatiku dagdigdug. Ada apa? Mengapa harus didalam kamar? Biasanya ini dilakukan isteriku bila ada sesuatu yang penting.

“Bi, anting umi dilepas ya? Mang Dudung mau pinjem duit/uang. Kita ‘gak ada persediaan. Atau kita pake aja uang yang lain?” Tanya isteriku pelan sambil menyebut satu rekg khusus penampungan. (isteriku memang membuka rekg penampungan untuk kebutuhan sosial)

Aku terperanjat, terkejut bagai diserempet Bus Way atau mobil BMW. Aku tidak memikirkan tentang tamu yang akan meminjam uang pada kami. Apalagi tamu tersebut masih saudara kami juga.

Yang kupikirkan adalah anting yang melekat di telinga isteriku. Anting itu merupakan perhiasan milik kami satu-satunya. Karena aku belum mampu membelikan perhiasan lain seperti gelang ataupun kalung. Bahkan anting itu, yang hanya seberat 2 gram saja, juga hasil jerih payah isteriku sendiri.

Hatiku sedih. Sedih karena belum bisa membahagiakan isteriku tercinta dari sudut pandang materi. Bahkan tidak bisa untuk sekelas anting sekalipun. Masya’ Allah.

Namun terbetik perasaan bahagia, betapa isteriku masih meninggikan derajatku sebagai suaminya. Dia masih meminta ijin aku untuk melepas anting itu demi menolong orang lain. Padahal sejujurnya kamipun masih kelimpungan dalam urusan keuangan.

Hatiku Bahagia, ternyata isteriku bukan hanya cantik parasnya tapi juga cantik sifatnya. Subhanallah. Engkau telah memberikan hamba Isteri yang sholihah Ya Rabb.

“Umi, kalo umi rela silakan umi lepas anting itu. Tapi kalo umi masih mau memakainya abi serahkan semuanya sama umi. Kalo uang ‘Baitul Maal’ jangan” jawabku lirih sambil berusaha menahan sedih ...

“Umi gak apa-apa bi ….” Kata isteriku sambil tersenyum manies, sehingga wajahnya menjadi lebih manies. Oh, ……

Anting satu-satunya perhiasan yang melekat pada diri isterikupun lepas sudah. Perhiasan kecil itu akan menghuni loket pegadaian. Perhiasan itu akan menjadi dana sosial isteriku guna membantu saudara kami yang lebih membutuhkan.

Isteriku maafkan aku. ..
Lalu ku lihat anak-anakku yang juga telah tertidur pulas ..

“Bi, katanya mau beli mobil/motor kayak Abi Osul” Kata anakku yang pertama (usia 5th) pada satu ketika setengah bertanya “Insya’ Allah ya” jawabku sambil senyum.
Lalu aku mengalihkan perhatian agar anakku tidak bertanya kembali.

“Anakku, maafkan Abi nak. Abi memang belum bisa memberikan materi. Tapi percayalah anakku, Allah SWT akan melihat ketulusan kita dan nilai ibadah kita” kataku dalam hati sambil mengecup kening kedua anaku

Lalu kuhampiri kembali isteriku tercinta. Ku kecup pula keningnya dengan penuh kasih sayang. Maafkan Abi ya umi. Abi mencintai umi karena Allah. Biar Allah yang akan membahagiakan kita. aamiin.

Aku terus berwudhu.

“Umi, engkau bagai bidadari yang hinggap direlung hati abi. Engkau bagaikan malaikat yang menjelma menjadi manusia dan menghiasi hari-hari bersama kami.

Umi, Engkau Seorang Kepala Cabang, namun tidak sedikitpun merasa risih pulang-pergi naik kendaraan umum, berdesak-desakan, makan dipinggiran jalan dan bahkan tinggal dipemukiman yang padat dan ‘maaf dilokasi kaum cilik” batinku

“Umi, dari lubuk hati yang paling dalam abi berdoa semoga apa yang umi lakukan dapat menjadi obat penawar bagi mereka yang sedang kesulitan. Umi, percayalah ANTA BUDALLAHA KAANAKUM TAROHU … WAILLANTAKUM TAROHU FAINNAHU YAROKA …”

“Umi, Benar apa yang disabdakan Rasulullah SAW mengenai kehidupan keluarga beliau ‘BAITI JANNATI’, Rumahku adalah surga bagiku. Semoga kita dapat selalu mengikuti Sunnahnya. aamiin”

Wallahu’alam bishshawab, ..

30 TIPS CARA MELEMBUTKAN HATI

Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ...Insya Allah kita tidak lalai akan do’a yang satu ini : “Duhai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah diriku dalam dien-MU (Islam).”

Begitulah, menjaga kondisi hati untuk senantiasa istiqomah berada di jalan ALLAH Subhaanahu wa Ta’ala, senantiasa bersih dari segala kotoran dan lembut dari segala kekerasan (hati), tidaklah mudah.

Kesibukan dan rutinitas kita yang menguras tenaga dan pikiran, serta interaksi yang terus menerus dengan masalah duniawi, jika tidak di imbangi dengan “makanan-makanan” hati, terkadang membuat hati menjadi keras, kering, lalu mati…

Padahal sebagai seorang Mukmin, dalam melihat berbagai macam persoalan kehidupan, haruslah dengan mata hati yang jernih.

Untuk itu, beberapa nasehat berikut patut kita renungi (terkhusus buat diri saya pribadi) dalam upaya melembutkan hati.

KITA HENDAKNYA SENANTIASA :

1. Takut akan datangnya maut secara tiba-tiba sebelum kita sempat bertaubat.

2. Takut tidak menunaikan hak-hak ALLAH secara sempurna. Sesungguhnya hak-hak ALLAH itu pasti akan dimintai pertanggung jawabannya.

3. Takut tergelincir dari jalan yang lurus, dan berjalan di atas jalan kemaksiatan dan jalan syaithan.

4. Takut memandang remeh atas banyaknya nikmat ALLAH pada diri kita.

5. Takut akan balasan siksa yang disegerakan di dunia, karena maksiat yang kita lakukan.

6. Takut mengakhiri hidup (mati) dengan su’ul khatimah.

7. Takut menghadapi sakaratul maut dan sakitnya sakaratul maut.

8. Takut menghadapi pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir di dalam kubur.

9. Takut akan adzab dan prahara di alam kubur.

10. Takut menghadapi pertanyaan hari Qiyamat atas dosa besar dan dosa kecil yang kita lakukan.

11. Takut melalui titian (shirath) yang tajam. Sesungguhnya titian itu lebih halus daripada rambut dan lebih tajam daripada pedang.

12. Takut dijauhkan dari memandang wajah ALLAH.

13. Perlu mengetahui tentang dosa dan aib kita.

14. Takut terhadap nikmat ALLAH yang kita rasakan siang dan malam, sedang kita tidak bersyukur.

15. Takut tidak diterima amalan-amalan dan ucapan-ucapan kita.

16. Takut bahwa ALLAH tidak akan menolong dan membiarkan kita sendiri.

17. Kekhawatiran kita menjadi orang yang tersingkap aibnya pada hari kematian dan pada hari timbangan ditegakkan.

18. Hendaknya kita mengembalikan urusan diri kita, anak-anak, keluarga, suami/isteri dan harta kita kepada ALLAH Subhaanahu wa Ta’ala. Dan jangan kita bersandar dalam memperbaiki urusan ini kecuali hanya kepada ALLAH.

19. Sembunyikanlah amal-amal kita dari riya’ ke dalam hati, karena terkadang riya’ itu memasuki hati kita, sedang kita tidak merasakannya. Hasan Al-Basri rahimahullah pernah berkata kepada dirinya sendiri.

“Berbicaralah engkau wahai diri, dengan ucapan orang shaleh, yang qana’ah lagi ahli ibadah. Dan janganlah engkau melaksanakan amal orang fasik dan riya’. Demi ALLAH, ini bukan sifat orang mukhlis.”

20. Jika kita ingin sampai pada derajat ikhlas maka hendaknya akhlak kita seperti akhlak seorang bayi yang tidak peduli orang yang memujinya atau membencinya.

21. Hendaknya kita memiliki sifat cemburu ketika larangan-larangan ALLAH diremehkan.

22. Ketahuilah bahwa amal shaleh dengan sedikit dosa jauh lebih disukai ALLAH, daripada amal shaleh yang banyak tetapi dengan dosa yang banyak pula.

23. Ingatlah setiap kita sakit bahwa kita telah istirahat dari dunia dan akan menuju akhirat, dan akan menemui ALLAH dengan amalan yang buruk.

24. Hendaknya ketakutan pada ALLAH menjadi jalan kita menuju ALLAH selama kita sehat.

25. Setiap kita mendengar kematian seseorang maka perbanyaklah mengambil pelajaran dan nasihat. Dan jika kita menyaksikan jenazah, maka khayalkanlah bahwa kita yang sedang diusung.

26. Hati-hatilah menjadi orang yang mengatakan bahwa ALLAH menjamin rezeki kita sedang hatinya tidak tenteram kecuali sesuatu yang ia kumpul-kumpulkan. Dan menyatakan sesungguhnya akhirat itu lebih baik dari dunia, sedang kita tetap mengumpul-ngumpulkan harta dan tidak menginfakkannya sedikit pun. Dan mengatakan bahwa kita pasti mati padahal dia tidak pernah ingat mati.

27. Lihatlah dunia dengan pandangan i’tibar (pelajaran) bukan dengan pandangan mahabbah (kecintaan) kepadanya dan sibuk dengan perhiasannya.

28. Ingatlah bahwa kita sangat tidak kuat menghadapi cobaan dunia. Lantas apakah kita sanggup menghadapi panasnya Jahannam?

29. Di antara akhlak sesama mukmin (wal mukminah) adalah saling nasehat-menasehati antar sesamanya.

30. Jika kita melihat orang yang lebih “besar” dari kita, maka muliakanlah dia dan katakan kepadanya, “Anda telah mendahului saya di dalam Islam dan amal shaleh, maka anda jauh lebih baik di sisi ALLAH. Anda keluar ke dunia setelah saya, maka anda lebih sedikit dosanya dari saya dan anda lebih baik dari saya di sisi ALLAH.

“….ALLAH mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syam [91]: 8, 9, 10).

Sungguh beruntung bagi siapapun yang mampu menata qalbunya menjadi bening, jernih, bersih, dan selamat.

Sungguh berbahagia dan mengesankan bagi siapapun sekiranya memiliki qalbu yang tertata, terpelihara, dan terawat dengan sebaik-baiknya.

Karena selain senantiasa merasakan kelapangan, ketenangan, ketenteraman, kesejukan, dan indahnya hidup di dunia ini, pancaran kebeningan hati pun akan tersemburat pula dari indahnya setiap aktivitas yang dilakukan.

Orang yang bersih hati itu, luar biasa nikmatnya, luar biasa bahagianya, dan luar biasa mulianya. Tidak hanya di dunia ini, tapi juga di akhirat kelak.

“Dan sesungguhnya ALLAH menyukai orang-orang yang bersih. Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada ALLAH, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (QS. At-Taubah [9]: 108 & 119)

Sudah Sedemikian Keraskah Hati Ini..?

Di dalam perjalanan menuju kantor, saya terlelap menikmati sejuknya udara dalam bis. Tak terasa hingga kondektur bis membangunkanku untuk menagih ongkos, dengan mataku yang masih merejap kuulurkan sejumlah uang untuk membayar ongkos bis. Dan … samar mataku menangkap sosok seorang ibu setengah baya berdiri tak jauh dari tempatku duduk. Tapi, rasa kantuk dan lelah ku mengalahkan niat baik untuk memberikan tempat duduk untuk ibu tersebut.

Turun dari bis, baru lah sisi baik hati ini bergumam, “Andai saya berikan tempat duduk kepada ibu tadi, mungkin pagi hari ini keberkahan bisa kuraih”. “Siapa tahu ridha Allah untuk ku di hari ini dari doa dan terima kasih ibu itu jika saja kuberikan tempat dudukku…” Ah, kenapa baru kemudian diri ini menyesal?
Semalam dalam perjalanan pulang dengan kereta api, duduk di hadapan saya seorang bapak berusia 40-an. Lewat seorang penjual air minum kemasan, dan ia segera menyetopnya untuk membeli. Tangan kirinya memegang segelas air minum kemasan sementara tangan satunya merogoh-rogoh kantongnya. Sesaat ia memperhatikan beberapa keping yang ia mampu raih dari bagian terdalam kantongnya, ternyata … ia mengembalikan segelas air minum kemasan yang sudah digenggamnya kepada penjual air sambil menahan rasa hausnya.

Saya yang sedari tadi di depan bapak itu hanya bisa menjadikan serangkaian adegan itu sebagai tontonan. Tidak ada tawaran kebaikan keluar dari mulut ini untuk membelikannya air minum, meski di kantong saya terdapat sejumlah uang yang bahkan bisa untuk membeli dua dus air minum kemasan! Bayangkan, cuma 500 rupiah yang dibutuhkan bapak itu tapi hati ini tak juga tergerak?

Kemarin, sebelum Isya, juga dalam perjalanan pulang. Hanya berjarak 200 meter dari kantor, saya melewati pemandangan yang menyentuh hati. Di pinggir jalan Wijaya, Jakarta Selatan, sekeluarga pemulung tengah menikmati penganan kecil berbuka puasa mereka. Suami, istri beserta dua anaknya itu tetap lahap meski yang mereka nikmati hanya sebungkus kue –entah pemberian siapa. Sempat langkah ini terhenti setelah tujuh atau delapan langkah melewati mereka, sempat pula saya berpikir untuk menghampiri keluarga itu untuk sekadar mengajak mereka makan. Tapi … bayangan ingin segera bertemu anak-anakku di rumah mengalihkan langkahku untuk meneruskan perjalanan.

Padahal, dengan uang yang saya miliki saat itu, sepuluh bungkus nasi goreng pun bisa saya belikan. Apalagi jumlah mereka hanya empat kepala. Dan kalau pun harus tergesa-gesa, toh semestinya saya bisa memberikan sejumlah uang untuk makan mereka malam itu, atau juga untuk sahur esok hari. Duh, kenapa kaki ini justru meneruskan langkah sekadar untuk memburu kecupan kedua putriku sebelum mereka tidur?

Pagi ini. Saya coba renungi semua perjalanan hidup ini. Ya Tuhan, sudah sedemikian keraskah hati ini? Sehingga tanpa rasa berdosa kulewatkan begitu banyak kesempatan berbuat baik. Bukankah selama ini saya selalu berdoa agar Engkau memberikanku kemudahan untuk berbuat baik terhadap sesama? Tetapi ketika Engkau berikan jalan itu, saya malah melewatkannya.

Berikan kesempatan itu lagi untukku, Tuhan.

“Maka kecelakaan besar bagi mereka yang hatinya telah keras membatu untuk mengingat Allah. Mereka itu berada dalam kesesatan yang nyata.” (Az-Zumar : 22)

SELAMAT TINGGAL SAYANG, I LOVE YOU

Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan ku bersama suamiku. Meskipun ia menikahiku, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.

Walaupun menikah terpaksa, sikap benciku aku selalu simpan dan aku rahasiakan. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.

Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.

Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.

Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.

Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.

Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.

Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.

Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.

"Maaf sayang, kemarin Erick meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku." Katanya menjelaskan dengan lembut.

Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. "Apalagi??"

"Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?" tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena "musuh"ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.

Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.

untuk kesekian kalinya aku telepon, tiba-tiba…. teleponku diangkat juga. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, "selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak Armandi?" kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi, ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.

Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, beberapa saat kemudian terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.

Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.

Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.

Saat pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.



Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang.

Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.

Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana.

Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.

Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku berdoa karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Tuhan karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Doalah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Tuhan padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak.

Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.

Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.

Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.

Istriku Liliana tersayang,

Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.

Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.

Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukanlah banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Allah memberimu jodoh yang lebih baik dariku.

Teruntuk Sarah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu. Dan Erick, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Sarah ya. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Selamat tinggal sayang, I love you forever…….

Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.

Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.

Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.

Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku dinikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, "Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Sarah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?"

Aku merangkulnya sambil berkata "Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta."

Putriku menatapku, "Seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?"

Aku menggeleng, "bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua."

Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.