Pahala Ketika Dipandang Suami


Bismillah ... Alhamdulillahi rabbil 'alamin, segala puji hanya bagi Allah yang telah menciptakan makhluk-Nya berpasang-pasangan. Serta shalawat dan salam semoga tak henti-hentinya kita sampaikan kepada junjungan kita Nabi yang teramat mulia disisi Allah Subhananu wa ta'ala, seorang manusia yang telah menuntun kita kejalan yang diridhai Allah SWT. dialah kekasih Allah, Rasulillah Muhammad Saw.

"Sebaik-baiknya wanita adalah Maryam binti Imran, sebaiknya wanita adalah Khadijah binti Khuwailid." (HR. Bukhari dan Muslim)

Sesuai judul artikel diatas yaitu, "Pahala Ketika Dipandang Suami. Alangkah bahagianya seorang wanita atau istri yang memiliki ilmu pengetahuan,yaitu pengetahuan bahwa menjadi seorang istri adalah sumber atau gudang pahala yang banyak, dengan sebab itulah Islam memberikan keistimewaan terhadap seorang waanita, karena mereka memiliki peran yang mulia dan mendapatkan pahala yang banyak disisi Allah Swt. Dari hadist diatas Rasulullah Saw. mengatakan bahwa Khadijah dan Maryam adalah contoh betapa mulianya perjuangan mereka, sehingga Allah Swt. menjamin mereka berdua masuk surga lantaran keistimewaan yang terdapat pada diri Maryam dan Siti Khaadijah.

Kebahagiaan adalah impian semua orang baik laki-laki maupun perempuan. Kebahagiaan juga menjadi landasan utama dalam membangun rumah tangga yang Sakinah, Mawaddah, dan Rahmah.

Tidak dapat kita pungkiri bahwa kebahagiaan menjadi tujuan seseorang yang telah menikah, yaitu hidup bahagia, tetapi tidak sedikit diantaranya gagal membina rumah tangga dan kandas ditengah jalan, lantaran tidak saling memahami, hilangnya rasa kasih sayang, masalah ekonomi, perselingkuhan, dan masih banyak lagi.

Disini, saya mengajak untuk sama-sama mengintip rumah tangga Rasulullah Saw, yang sukses membangun, membentuk sebuah rumah tangga yang didalamnya terdapat ketenangan, kesejukkan, kenyamanan, keindahan, kemesraan, kebahagiaan. Sebuah rumah tangga yang didalamnya penuh kasih sayang. "BAITI JANNATI, RUMAHKU ADALAH SURGAKU" inilah sebaris kalimat yang didalamnya terkandung makna atau sebuah resep kebahagiaan, agar rumah tangga yang baru saja dibangun dalam sebuah pernikahan dengan berjuta impian yang dibawah ketika kedua mempelai duduk bersanding diatas mahligai yang indah dan tentunya dalam pikiran mereka terbayang kehidupan bahagia dimasa-masa yang akan mereka lalui. Tidak terbayang dihati mereka akan kegelisahan yang akan mereka hadapi. Demi mewujudkan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warahmah.

Rasulullah saw, telah banyak mengajarkan kepada kita, bagaimana membangun sebuah rumah tangga yang didalamnya penuh kasih sayang. Dibawah ini ada beberapa tips yang diambil dari hadist-hadist yang menggambarkan kehidupan rumah tangga Rasulullah yang penuh dengan kemesraan dan kebahagiaan
bersama istrinya. Untuk mengetahui beberapa tips atau resep kebahagiaan rumah tangga Rasulullah saw.

Keistimewaan Maryam terletak pada ketaatannya kepada Allah swt. Sedangkan Khadijah merupakan istri Rasulullah saw. Bunda Khadijah sangat dicintai dan disayangi oleh Baginda Nabi saw.karena ketaatan beliau kepada suami. Begitu juga dengan Asiyah istri Fir'aun. Ia juga termasuk wanita yang dijamin Allah masuk surga lantaran taat kepada Allah swt. walau ia mempunyai suami yang zalim dan menganggap dirinya adalah Tuhan. Namun Asiyah tidak menyembah Fir'aun suaminya melainkan menyembah kepada Tuhan yang telah menciptakan langit dan bumi.

Fatimah putri Rasulullah yang juga merupakan istri dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra. merupakan istri yang taat kepada suaminya, sehingga membawa Fatimah menjadi seorang anak yang menjadi kebanggaan ayahnya (Rasulullah saw) dan disebut oleh Rasulullah sebagai pemimpin wanita ahli surga.

Nabi saw.bersabda : "Fatimah adalah pemimpin wanita ahli surga."

Ketahuilah wahai saudariku para wanita muslimah, sesungguhanya para istri yang salehah adala istri yang taat kepada suaminya, taatnya engkau tiada lain adalah untuk mentaati Allah Swt.

"Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh,ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)..." (QS. An-Nisa':34)

Menjadi seorang istri salehah yang taat kepada suaminya bukanlah perkara yang mudah, namun berusaha dari yang kecil, seperti memberikan senyuman yang menawan hati suami, berhias ketika suami pulang bekerja dan menyiapkan segala kebutuhannya serta melayani suami dengan baik, sehingga suami merasa senang dan bangga memperoleh istri yang baik, salehah lagi taat kepada suami, sehingga suami akan merasa nyaman berada dirumah dan menjadi buah pandangan yang menyenangkan hati suaminya.

Sehingga tidak menutup kemungkinan akan mendapatkan rumah tangga yang didalamnya terdapat surga dengan pertamanan yang indah. "Baiti Jannati, Rumah Tanggaku adalah Surgaku. Rumah tangga yang akan senantiasa mendapat naungan (dipelihara atau lindungan), rahmat dan ridha Allah swt. Perbuatan diatas merupakan bagian yang terkecil dari ketaatan seorang istri kepada suaminya, tetapi memiliki nilai ibadah dan pahala yang besar, sebaagai modal awal dari ketaatan kepada Allah swt. untuk menuju keehidupan yang abadi, meraih kebahagiaan hidup rumah tangga di dunia dan akhirat dan mendapatkan tempat yang didalamnya terdapat kasih sayang Allah SWT,yaitu surga sebagai tempat kediaman yang kekal.

Demikianlah saudara-saudaraku Muslimah yang dapat saya bagikan artikel pada kali ini, semoga dapat memberi mnfaaat yang banyak dan bernilai ibadah disisi Allah swt. Aamiin, ya Allah.

Istriku Tidak Cantik



Istriku tidak cantik , standar dan biasa saja . Aku juga sadar bahwa dia tidak cantik tapi tidak buruk dan kalau bersanding denganku maka aku nampak lebih rupawan dari dia . Badannya kecil ada dibawah dadaku , juga kulitnya agak hitam , lebih putih kulitku , satu lagi kakinya agak pincang , yang kanan lebih kecil sedikit daripada yang kiri .

Aku menyadarinya ketika aku sudah menikahinya , namun aku sadar bahwa aku telah memilih dia dengan ikhlas dihatiku , kan aku yang memilih , bukan dia yang memaksa , dan walau istriku tidak cantik , namun aku mencintainya . Allah taburkan rasa cinta itu ketika malam pertama aku bersamanya .

Dimataku dia tetap tidak cantik , namun aku nyaman bila melihat senyumannya. Dia selalu menerima apa adanya aku , sempat aku pulang tidak bawa gaji seperti yang dijanjikan di lembar penerimaan karyawan bahwa gajiku tertera 4 juta sekian-sekian , namun karena aku selalu terlambat dan juga sering bolos lantaran mengantar si kecil ke rumah sakit dan juga si sulung ke sekolah maka hampir 40 % gajiku dipotong . Syukur dia tidak bersungut-sungut , malah segera bersiap menukar menu makanan dengan yang lebih sederhana dan bersikeras meminjam komputer butut kami untuk menulis artikel yang dikirimkannya ke beberapa majalah yang terkadang satu atau dua artikel ditayangkan , dan baginya itu sudah Puji Tuhan bisa menambah sambung susu anakku .

Istriku tidak cantik , namun aku ingat , banyak sekali sumber daya alam yang buruk bahkan legam dan membuat tangan kotor namun tetap dicari , diburu dan dipertahankan orang , seperti batubara . Istriku mungkin bukan emas , dia mungkin batubara, keberadaannya selalu menghangatkan hatiku dan selalu membuatku tidak merasakan resah . Aku membayangkan bila aku menyimpan batubara satu kilo dirumahku dibandingkan dengan menyimpan emas satu kilo dirumahku , maka aku tidak akan dapat berjaga semalaman bila emas yang kusimpan . Namun bila batubara yang ku simpan , aku masih punya izzah ada barang yang ku simpan yang cukup berharga , namun aku tetap dapat tidur nyenyak dengannya .

Bayangkan bila istriku sangat cantik , mungkin aku tidak akan tenang membayangkan dia ke pasar dilirik semua lelaki , membayangkan dia sms-an dengan bekas pacar-pacarnya dulu , membayangkan mungkin dia bosan padaku . Akh .. aku bersyukur istriku tidak cantik sehingga aku bisa tidur nyenyak walau banyak nyamuk sekalipun . Istriku tidak cantik , namun dia adalah istri terbaik untukku .

Pesanku : Aku selalu melihat sisi baik dari istriku yang membuatku merasa sama dan nyaman dengannya .

SEBAIK-BAIK SHOLAT WANITA ADALAH DI RUMAHNYA

Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ... Sebaik-baik shalat wanita adalah di rumahnya. Karena Allah memerintahkan pada wanita untuk berdiam diri di rumah. Namun tidak mengapa ia keluar asalkan memperhatikan aturan seperti menutup aurat dan tidak menggoda pria.

Dalam ajaran Islam, shalat wanita lebih baik di rumah. Dari Ummu Salamah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sebaik-baik masjid bagi para wanita adalah diam di rumah-rumah mereka.”

(HR. Ahmad 6/297. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan dengan berbagai penguatnya).

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Shalat seorang wanita di rumahnya lebih utama baginya daripada shalatnya di pintu-pintu rumahnya, dan shalat seorang wanita di ruang kecil khusus untuknya lebih utama baginya daripada di bagian lain di rumahnya”

(HR. Abu Daud no. 570. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Kenapa sampai wanita lebih bagus shalat di rumahnya, bahkan lebih bagus di ruangan di kamarnya yang lebih khusus untuknya? Karena seperti itu akan lebih menutupi dirinya (Lihat ‘Aunul Ma’bud, 2: 195).

Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Shalat jama’ah bagi wanita itu lebih baik di rumahnya daripada mendatangi masjid. … Dan shalat wanita di rumahnya itu lebih menutupi dirinya dan lebih afdhol” (Al Majmu’, 4: 198).

Shalat wanita di rumah adalah pengamalan dari perintah Allah agar wanita diam di rumah. Allah Ta’ala berfirman,

“Dan tinggallah kalian di dalam rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berdandan sebagaimana dandan ala jahiliah terdahulu” (QS Al Ahzab: 33).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, "Wanita itu adalah aurat. Jika dia keluar maka setan akan memperindahnya di mata laki-laki" (HR. Tirmidzi no. 1173, shahih).

Namun jika wanita ingin melaksanakan shalat berjama’ah di masjid selama memperhatikan aturan seperti menutupi aurat dan tidak memakai harum-haruman, maka janganlah dilarang.

Dari Salim bin Abdullah bin Umar bahwasanya Abdullah bin ‘Umar berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Janganlah kalian menghalangi istri-istri kalian untuk ke masjid. Jika mereka meminta izin pada kalian maka izinkanlah dia” (HR. Muslim no. 442).

Sekali lagi, dilarang memakai harum-haruman ketika keluar rumah. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Wanita mana saja yang memakai harum-haruman, maka janganlah dia menghadiri shalat Isya’ bersama kami” (HR. Muslim no. 444).

Jika setiap wanita memperhatikan shalatnya dan menjaga kehormatan dirinya, maka ia akan mendapatkan keutamaan sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut ini.

“Jika seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadhan), serta betul-betul menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina) dan benar-benar taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita yang memiliki sifat mulia ini, “Masuklah dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau suka”

(HR. Ahmad 1: 191 dan Ibnu Hibban 9: 471. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih)

SUAMIKU, AKU SUKA DIRIMU APA ADANYA



Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ... 

( Masa awal-awal sesudah menikah ) ... 

"Mi, masih inget penampilan Abi pas kita ta'aruf kan? tau ga, Abi tuh sengaja nyari baju, celana panjang sama sendal jepit paling butut, supaya Ummi bisa ngeliat abi apa adanya. Bukan Abi yang dibuat2, mentang2 mau ta'aruf ama akhwat, trus sengaja make yang baru2, hehe..."

"Iya Bi, Ummi inget banget. Dulu Ummy malah mikir, nih ikhwan cuek banget si, ana ajah dah make baju rada cakepan dikit. Abi.. abi.. untung Ummi bukan perempuan super matre yg cuman ngeliat penampilan luar." Wanita itu tersenyum simpul kepada suaminya.

"Kan sengaja Mi, biar bisa tau akhwatnya juga. Abi kan ga mau klo cuman diliat dari penampilan luar. Jadi, bukan sembarang akhwat yang bisa jadi isteri Abi. Klo akhwat abal-abal kan, paling dah illfeel ngeliat penampilan Abi. Makanya Abi bisa dapet Isteri yang luar biasa kayak Ummi." ucap sang suami dengan lirikan mesranya.

"Huuu Abi, bisa ajah ngerayunya."

"Iya dong, Abiii ..." ucap sang suami sambil mengernyitkan dahinya. Sang isteri tersenyum manis menatap suaminya.

( Sebulan sesudah menikah )

Suamiku...
Bahkan kaupun tak malu bekerja apapun selama itu halal, demi isterimu...

"Ummi, Abi dah keterima kerja, Alhamdulillah. Jadi tukang sapu di jalan Mi. Ummi ga malu kan punya suami tukang sapu?"

"Abi...buat apa malu? yang penting kan halal. Lagipula, Abi kan ngebantu ngejaga kebersihan juga. Kebersihan kan sebagian dari iman." ujar sang isteri menguatkan.

( Memulai usaha baru dengan Bismillah )

Suamiku...
Betapa sabarnya dirimu menghadapi ujian yang Allah berikan..

"Ummi, mulai lusa, Abi jadi jualan mie ayam di ujung jalan komplek kontrakan ini. Gerobaknya dah Abiy bikin. Besok temenin Abi belanja peralatan masak sama bahan2nya ya Mi.." ucap sang suami semangat.

"Wah, Alhamdulillah. Abi kok baru bilang, klo gerobaknya udah jadi, Ummy jadi ga bantuin Abi deh. Hmm, insyaAlloh besok Ummi temenin.."

"Abis Abi kasian sama Ummi. ummi kan dah cape' ngajar. Jadi, biar Abi yang ngerjain.Ummiy do'ain Abi ya..."

"InsyaAllah Abi sayang...I Will. Klo Abi butuh bantuan, Ummy insyaAlloh bersedia, kapanpun slama Ummi bisa.."

“ Alhamdulillah, terimaksih ummi..Bismillah, semoga usaha ini berkah ya mi..”

( Beberapa bulan kemudian, di sore hari )

Sang Isteri baru saja pulang mengajar dari sekolah SD di desanya. "Abi, gimana hasil jualan Mie Ayam hari ini?"

"Waduh Mi, gerobak Abi dibobol maling. Jadi panci, kompor, sama perabot laennya dah dibawa kabur sama maling. Padahal kan dah Abi gembok."

"Innalillahi, padahal baru jualan dua bulanan ya Bi."

"He'eh Mi, Abi juga dah dapet lumayan banyak pelanggan. Tapi ya, mungkin bukan rezeki kita. Allah pasti ngasih ujian sesuai sama kemampuan hambaNya."

"Subhanallah..Abi..InsyaAlloh Bi, klo rezeki mah gak kemana."

( Usaha membahagiakan keluarga. Dibulan puasa, Dua hari menjelang lebaran. )

Suamiku...
Aku tau besarnya upayamu untuk membahagiakanku dan anak2 kita...

"Ummiy, afwan, Abi ga bisa beliin apa2 buat Ummiy di lebaran tahun ini." ujar sang suami dengan wajah yang terlihat amat kelelahan.

"Abi ga usah minta maaf sama Ummi. Ummi tau, Abi dah berusaha keras. Ga papa insyaAllah Bi, esensi makna Idul Fitri kan bukan itu..bukan baju baru dan makanan enak.." Ujar sang isteri seraya menitikkan air mata, karna terharu suaminya meminta maaf seperti itu.

Keesokan harinya..

"Abi..Ummi dapet ini nih dari sekolahan."sang isteri menunjukkan kardus dengan ukuran cukup besar. Seorang kurir baru saja mengantar kardus tersebut.

"Wah, apa ini Mi..?"
"Ummi juga belum tau Bi, coba kita buka."

Merekapun membuka kardus tersebut.

"Subhanalloh Bi, isinya banyak banget. THR Bi..."sang isteri, melihat isi kardus itu dengan pandangan penuh syukur, seraya menunjukkan kartu ucapan Idul Fitri yang diletakkan di bagian atas barang2 yang ada di dalam kardus tersebut."

"Alhamdulillah.."sang suami mengucap syukur dengan bibir yang kelu, betapa Allah teramat menyayangi mereka.

( Suamiku sangat dermawan, meski kami kekurangan )

Suamiku...
Cintaku padamu makin bertambah besar, saat ku tau bahwa kau sangat mencintai sesama... saat kau terus berupaya membahagiakan orang2 di sekitarmu...

Saat seorang bapak tua datang ke rumah mungil itu..

"Bang, anak saya sakit. Abang bisa bantu saya?saya dah ga punya duit. Saya bingung harus minta bantuan ke siapa lagi."ucap si bapak tua.

"Alhamdulillah, Bapak dateng tepat waktu. InsyaAlloh saya bisa bantu." ucap sang suami, seraya tersenyum. Sang suami ke kamarnya, mengambil uang yang akan dipinjamkan kepada Bapak tua.

"Maaf Pak, saya cuma punya segini."
"Makasi Bang, makasi. Klo saya dah dapet rezeki, insyaAllah langsung saya kembaliin."

"Sama2 Pak, Alhamdulillah, kebetulan lagi ada rezeki."

Setelah si Bapak tua pergi, sang isteri menghampiri suaminya.

"Abi, kok uangnya dikasih ke Bapak tadi. uang kita kan tinggal segitu2nya Bi."

"Bapak itu lebih butuh ketimbang kita Mi. InsyaAlloh, Allah bakalan ngasih rezeki yang lebih besar untuk kita."

"Abi bener, maafin ummi ya..dah meragukan keputusan Abi."
"ga papa Mi..."jawab suaminya sambil tersenyum.

( Janji Allah itu nyata )

Suamiku...
Kata2mu benar, bahwa Allah pasti akan memberikan rizki yang berlimpah, kepada siapapun yang Dia kehendaki..

"Ummiy, Alhamdulillah..Abi keterima kerja di TELKOM. Berkat do'a Ummi juga."

"Alhamdulillah...bener kata Abi, kita harus bersabar...akhirnya ijazah S1 Abi kepake juga ya, hehe."

"He..he..bener Miy..Alhamdulillah. Moga2 bermanfaat untuk dakwah juga ya Mi.."

"Aamiin."

( Firasat buruk )

Suamiku.. Hatiku tiba-tiba sedih..
Sang Isteri menggendong anaknya..kemudian dibonceng sang suami dengan menggunakan motor.

"Ummi, hati2 ya. Slesei tahsin jam brapa? biar nanti Abi jemput."
"Bukannya Abi mau masang spanduk bareng ikhwan2nya..?"

"Ga papa Mi, ntar Abi izin sebentar untuk ngejemput Ummi. Abi ga tega, klo Ummi sama Azam naek angkot."

"Ya uda klo gitu Bi. Ummi pulang ba'da Ashar, insyaAllah."

"Siip, Abi pamit ya. Assalamu'alaikum..."ujar sang suami sambil mengenakan helmnya.

"wa'alaikumsalam warohmatulloh wabarokatuh.." enth kenapa sang istri merasa tiba-tiba sedih saat itu.

( Semua adalah titipanNya )

Suamiku..
Sesungguhnya engkau adalah milikNya...

Ba'da Ashar
Sang suami belum datang juga.

"Abi kemana ya, kok tumben telat...?"ujar sang isteri di dalam hati.

Sang isteri pulang ke rumah dengan menggunakan angkot. Kebetulan, tiap akhir pekan, memang suami isteri tersebut pulang ke rumah orang tua sang suami. Dari kejauhan, sang isteri melihat rumah mertuanya penuh dengan warga sekitar. Dengan azam anak semata wayangnya yg tertidur pulas di dalam gendongannya, sang isteri melangkahkan kaki dengan wajah penuh tanya. Ada sesosok tubuh dibaringkan di ruang tamu. Batinnya menyangkal tapi, matanya tidak salah.

Suaminya telah tergeletak di ruangan itu, bersimbah darah. Ibu mertuanya lari memeluk sang isteri tersebut. Azam diambil dari gendongannya, oleh adik ipar sang isteri. Sang Isteri diam seribu bahasa. Wajahnya terlihat kaget. Sejenak kemudian beristighfar sebanyak2nya.

Banyak ikhwan yang datang untuk ta'ziyah. Akhwat2 memeluk sang isteri seraya menghiburnya, dan berharap bahwa sang isteri bisa bersabar. Tak setetespun air mata, keluar dari mata indahnya. Para pelayat banyak yang berkomentar,"Jenazahnya wangi..subhanallah..."

"Wangi apa ini? subhanallah..." Ya, dari jenazah sang suami, keluar bau wangi, entah dari mana. Sang akhwat diberi tau, bahwa suaminya meninggal karna tertabrak truk, ketika sedang memasang spanduk dan pamflet untuk acara bakti sosial anak-anak yatim dikotanya.

Allohurobbi ... Innalillahi wainna ilaihi rajiun ..:'((


Kisah ini adalah “Based on True Story”, yang terjadi di kotanya icha. Diceritakan dari mama icha beberapa waktu lalu.

Ah ya Allah...tiap Mama cerita tentang guru tahsinnya yang satu ini, hati icha tersentuh dan haru biru..

Betapa sang isteri ini terus mengenang suaminya..tiap ketemu Mama atau slesai ngajar..pasti cerita tentang kebaikan suaminya.. dalam kesendirian... sang isteri mendidik dan menjaga dua orang anaknya.. sambil terus berharap .. bisa berjumpa dengan sang suami di akhirat kelak...

* Kisah sebenarnya icha tidak tahu persis. Tapi insyaAllah inti ceritanya sama kaya' yang diceritain sama sang isteri...

cuman icha sampein disini pake bahasa icha sendiri.. Kaga' tau ngapa, pas nulis ini icha malah ikut menitikkan air mata..tes..tes..dua butir kristal beningpun jatuh..:’((*

Barakallahufikum .. jabat erat dan salam hangat ...

Wallahu’alam bishshawab, ..

MAAFKAN AKU, DUHAI ISTERIKU TERCINTA



Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ... Kutatap wajah isteriku tercinta yang sedang tertidur pulas. Terlihat jelas guratan rasa lelah diwajahnya.

Yaa, memang isteri sering bercerita betapa akhir-akhir ini dia merasa begitu letih. Perjalanan menuju lokasi kerja di bilangan Depok yang memakan waktu cukup lama. Belum lagi bila tiba dikantornya sudah banyak nasabah yang datang, meskipun jam layanan belum dibuka. Maka tak jarang isteriku memajukan aktifitas pekerjaannya.

Jika ternyata antrian nasabah terus berlanjut sampai siang atau bahkan sore hari, maka selama ini pula isteriku tak merasakan nikmatnya ‘kunyahan nasi atau sekedar cemilan sekalipun’. Isteriku memang bekerja di jasa pelayanan bidang keuangan.

Kebetulan dia memiliki posisi yang strategis. Maka tanggung jawabnya begitu besar terhadap layanan dan kepuasan nasabah.

Tak terasa air mataku berlinang kecil membasahi pipi. Rasa sayangku kepada isteriku bertambah besar. Ingin rasanya aku memeluknya dengan erat serta mengucapkan kata cinta yang tulus dan sepenuh hati. Namun niat itu ku-urungkan, khawatir hal itu justru akan mengagetkan atau mengurangi waktu istirahatnya.

Pikiranku menerawang pada peristiwa tadi siang, 11.02.2007. Sambil berbisik Isteriku mengajakku ke dalam kamar. Hatiku dagdigdug. Ada apa? Mengapa harus didalam kamar? Biasanya ini dilakukan isteriku bila ada sesuatu yang penting.

“Bi, anting umi dilepas ya? Mang Dudung mau pinjem duit/uang. Kita ‘gak ada persediaan. Atau kita pake aja uang yang lain?” Tanya isteriku pelan sambil menyebut satu rekg khusus penampungan. (isteriku memang membuka rekg penampungan untuk kebutuhan sosial)

Aku terperanjat, terkejut bagai diserempet Bus Way atau mobil BMW. Aku tidak memikirkan tentang tamu yang akan meminjam uang pada kami. Apalagi tamu tersebut masih saudara kami juga.

Yang kupikirkan adalah anting yang melekat di telinga isteriku. Anting itu merupakan perhiasan milik kami satu-satunya. Karena aku belum mampu membelikan perhiasan lain seperti gelang ataupun kalung. Bahkan anting itu, yang hanya seberat 2 gram saja, juga hasil jerih payah isteriku sendiri.

Hatiku sedih. Sedih karena belum bisa membahagiakan isteriku tercinta dari sudut pandang materi. Bahkan tidak bisa untuk sekelas anting sekalipun. Masya’ Allah.

Namun terbetik perasaan bahagia, betapa isteriku masih meninggikan derajatku sebagai suaminya. Dia masih meminta ijin aku untuk melepas anting itu demi menolong orang lain. Padahal sejujurnya kamipun masih kelimpungan dalam urusan keuangan.

Hatiku Bahagia, ternyata isteriku bukan hanya cantik parasnya tapi juga cantik sifatnya. Subhanallah. Engkau telah memberikan hamba Isteri yang sholihah Ya Rabb.

“Umi, kalo umi rela silakan umi lepas anting itu. Tapi kalo umi masih mau memakainya abi serahkan semuanya sama umi. Kalo uang ‘Baitul Maal’ jangan” jawabku lirih sambil berusaha menahan sedih ...

“Umi gak apa-apa bi ….” Kata isteriku sambil tersenyum manies, sehingga wajahnya menjadi lebih manies. Oh, ……

Anting satu-satunya perhiasan yang melekat pada diri isterikupun lepas sudah. Perhiasan kecil itu akan menghuni loket pegadaian. Perhiasan itu akan menjadi dana sosial isteriku guna membantu saudara kami yang lebih membutuhkan.

Isteriku maafkan aku. ..
Lalu ku lihat anak-anakku yang juga telah tertidur pulas ..

“Bi, katanya mau beli mobil/motor kayak Abi Osul” Kata anakku yang pertama (usia 5th) pada satu ketika setengah bertanya “Insya’ Allah ya” jawabku sambil senyum.
Lalu aku mengalihkan perhatian agar anakku tidak bertanya kembali.

“Anakku, maafkan Abi nak. Abi memang belum bisa memberikan materi. Tapi percayalah anakku, Allah SWT akan melihat ketulusan kita dan nilai ibadah kita” kataku dalam hati sambil mengecup kening kedua anaku

Lalu kuhampiri kembali isteriku tercinta. Ku kecup pula keningnya dengan penuh kasih sayang. Maafkan Abi ya umi. Abi mencintai umi karena Allah. Biar Allah yang akan membahagiakan kita. aamiin.

Aku terus berwudhu.

“Umi, engkau bagai bidadari yang hinggap direlung hati abi. Engkau bagaikan malaikat yang menjelma menjadi manusia dan menghiasi hari-hari bersama kami.

Umi, Engkau Seorang Kepala Cabang, namun tidak sedikitpun merasa risih pulang-pergi naik kendaraan umum, berdesak-desakan, makan dipinggiran jalan dan bahkan tinggal dipemukiman yang padat dan ‘maaf dilokasi kaum cilik” batinku

“Umi, dari lubuk hati yang paling dalam abi berdoa semoga apa yang umi lakukan dapat menjadi obat penawar bagi mereka yang sedang kesulitan. Umi, percayalah ANTA BUDALLAHA KAANAKUM TAROHU … WAILLANTAKUM TAROHU FAINNAHU YAROKA …”

“Umi, Benar apa yang disabdakan Rasulullah SAW mengenai kehidupan keluarga beliau ‘BAITI JANNATI’, Rumahku adalah surga bagiku. Semoga kita dapat selalu mengikuti Sunnahnya. aamiin”

Wallahu’alam bishshawab, ..

AYAH BUNDA YANG HOBI BBM'-AN, BERHENTI YAH !

Bismillah .. Aku dan adik sayang mama ..
Tapi maaf ma ..

Mengapa saat adik menangis kehausan ..
Mama masih asyik BerBBM ..

Mengapa saat aku tidak bisa mengerjakan PR ..
Mama selalu bilang coba dulu pikir sendiri, sambil mata melotot ke BB ..

Mengapa saat aku tidak bisa memasang tali sepatu. Mama selalu menyuruh mbak untuk membantunya, sambil tangan mama lincah menyentuh BB ..

Aku dan adik sayang Papa ..
Tetapi, maaf Pa ..

Mengapa saat mama minta tolong ambilkan pampers untuk adik. Papa selalu bilang ambil sendiri, sambil tertawa di depan layar BB
Mengapa saat aku mengajak main bola. Papa selalu bilang papa lagi capek, tapi tanpa lelah balas BBM ..

Mengapa papa sekarang jarang sekali menyanyikan lagu saat membobokkan adik. Tapi papa asyik terus pegang BB ..

Mengapa papa sekarang jarang sekali baca cerita saat sebelum tidur. Tapi papa selalu pegang BB saat membobokkan aku ..

Aku dan adik sayang Papa Mama ..
Tapi, maaf pa ma ..

Aku dan adik jadi benci BB, padahal papa mama menyayanginya
Karena sejak ada BB, papa jarang cium aku ..

Karena bila pegang BB, mama kalau ditanya PR selalu marah-marah ..

Karena bila ada bunyi BB, papa selalu melepaskan gendongan adik .. Karena sejak ada BB, mama hanya bisa tertawa dengan BB .. Karena sejak kerajingan BB, papa jarang maen perang-perangan lagi denganku ..

Aku dan adik sayang Papa Mama ..
Tapi, maaf pa ma ..
Aku pernah ajak adik berdoa, semoga BB papa mama selalu low bat ..

Aku pernah ajak adik berdoa, mudah-mudah wajahku berubah jadi BB. Biar papa mama selalu pandangi aku terus ..

Aku pernah Ajak adik berdoa, supaya BB papa mama ketinggalan di kantor. Biar Aku dan adik bisa bersenang-senang seperti dulu lagi ..

Aku pernah ajak adik berdoa, supaya semua orang di rumah ini tidak beli BB kayak papa mama. Agar kalau papa mama mengacuhkan aku, aku bisa main dengan mereka ..

Papa dan Mama ...
Maafin aku dan adik ..

Dr Widodo Judarwanto SpA via Eka Satriana
Save Our Children
http://saveourchildren.wordpress.com/

(Gerakan Matikan BB di Depan Anak)

Wahai Lelaki, Muliakanlah Perempuan !

Tugasmu adalah memuliakan perempuan. Ibumu, istrimu, dan anak-anak perempuanmu.

Di Pundakmu mereka bertumpu. Maka sepatutnya kau malu; jika tanganmu masih berpangku dan hatimu tidak tergerak untuk menjadikan mereka mulia.

Wahai Lelaki,
... Tugasmu adalah memuliakan perempuan. Ibumu tiga kali lebih berhak engkau hormati daripada ayahmu. Bahkan jika engkau sudah menggendongnya keliling dunia; niscaya tidak akan terbalas kemuliaan ibunda padamu.

Istrimu adalah indikator kebaikanmu. Kemuliaannya melalui tanganmu adalah pemberat amalmu di akhirat kelak.
Anak-anak perempuanmu adalah cermin dirimu. Kesenangan mereka akibat perbuatanmu adalah perisaimu dari api neraka.

Wahai Lelaki,
Tugasmu adalah memuliakah perempuan. Memuliakan, menjadikan mereka mulia, di dunia dan di sisi-Nya.
Maka janganlah sekali-kali berhitung ketika menafkahi Ibumu. Apakah Ibumu pernah menagihmu atas air susu yang menjadikanmu siapa dirimu sekarang?
Jangan pula merasa berat saat mencukupi kebutuhan istrimu. Bukankah seharusnya kehormatanmu bisa memenuhinya?
Pun merasa sempit saat memberikan kesenangan dunia pada anak-anak perempuanmu. Perisai api neraka tidak sebanding dengan apapun di dunia.

Wahai Lelaki,
Tugasmu adalah memuliakan perempuan. Mulia, bukan saja di dunia; tapi juga menjadikan mereka mulia di hadapan-Nya.
Jangan berharap mereka mendirikan perintah-Nya; manakala dirimu sendiri lalai terhadap-Nya. Jangan berpikir mereka akan menaatimu; jika dirimu mungkin tidak pantas untuk ditaati. Jangan pula berharap iringan do’a dan ridho mereka jika mereka terlewat dari do’a-do’amu.

Wahai Lelaki,

Tugasmu adalah memuliakan perempuan. Namun, sungguh, merekalah yang menjadi sebab kejayaanmu; sebagaimana mereka pula mungkin menjadi sebab bagi kehinaanmu. Maka bangunan megah di dunia saja tidak cukup bagi mereka untuk menjadi mulia; ajarkanlah mereka membangun istana di surga-Nya.
Hilangkanlah rasa sempitmu; niscaya Allah akan mencukupkanmu untuk mencukupi mereka.
Berlemah lembutlah pada mereka; niscaya Allah pun akan melembutkan mereka untuk berlemah lembut padamu.

Berbahagialah, Wahai Lelaki, jika demikian berat amanahmu di muka bumi; maka Allah pasti telah menyediakan tempat yang mulia bagi dirimu yang telah menjadikan perempuan mulia di sisi-Nya.

RUMAH TANGGA SURGA

Niat menikah tentunya karena Allah SWT karena menikah adalah ibadah. Karena menikah juga merupakan perintahNya. Coba kawan dicek dalam Al-Qur’an surah An-Nur ayat 32. “Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kaurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui” (QS. An-Nur : 32).





Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka.(QS. Al-baqarah [2]: 187)
 
1. Kita semua ingin rumah tangga layaknya surga agar penghuninya betah di dalamnya.

2. Dan ketahuilah, ciri utama penduduk surga di antaranya bicara yang lembut. Tidak suka teriak atau membentak.

3. Kebiasaan berteriak justru merupakan ciri penduduk neraka. (QS 35:37)

4. Maka jika ada suara teriakan di dalam rumah, itu artinya suasana surga sudah berganti suasana neraka. Bahaya!

5. Sebab, kebiasaan teriak atau bicara melebihi desibel suara normal akan mengeringkan cinta.

6. Sejatinya cinta adalah kelembutan. Dan tidaklah sesuatu disertai kelembutan kecuali akan memperhiasnya. (Hadits)

7. Itulah kenapa bukti cinta kepada Allah diminta kita tuk berdzikir dengan suara yang lembut, tidak berteriak di hadapanNya. (QS 7:205)

8. Dan kebiasaan berteriak di dalam rumah tangga sejatinya akan mengurangi rasa cinta.

9. Sulit kita lihat sepasang pengantin yang dimabuk cinta berbicara sambil teriak-. Kebalikannya, mereka malah suka bisik-bisik.

10. Pelan. Tapi nge-jlebb ke hati. Sebab meski tanpa suara, hati berteriak memproklamirkan cinta.

11. Penting bagi setiap keluarga yang merindukan suasana surga agar mengurangi teriakan di dalam rumah, terlebih untuk anak-anak kita.

12. Kebiasaan berteriak atau membentak di depan anak diakui oleh para ahli akan mengaktifkan batang otak anak.

13. Batang otak itu yang disebut otak reptil atau otak refleks. Anak cenderung merespon masalah tanpa berpikir.

14. Diledek teman refleks memukul. Ini tersebab batang otaknya lebih dominan daripada korteksnya yang ajak dia tuk berpikir.

15. Anak yang batang otaknya menebal cenderung merespon sesuatu dengan prinsip 'flight or fight'.

16. Solusi jarang keluar dari anak dengan model begini. Yang ada adalah puaskan emosi.

17. Maka anak-anak yang gampang marah, tawuran dan sebagainya bisa dibilang karena batang otaknya cenderung lebih dominan.

18. Dan kalau ditelusuri penyebab awalnya yakni kebiasaan dibentak atau diteriaki dari kecil baik oleh ortu atau guru.

19. Dampak berikutnya dari kebiasaan berteriak di hadapan anak adalah menghancurkan sel otaknya.

20. Satu kali teriakan kepada anak di bawah usia 5thn akan menghancurkan 10ribu sel otaknya setiap teriakan.

21. So, hitung deh udah berapa kali bentak anak. Kalikan 10rb. Maka itulah dosa kita yang buat anak kita gak pintar-pintar.

22. Dan berteriak ini belum tentu membentak. Bisa jadi sekedar bercanda untuk menyemangati. Ini tetap bahaya dan terlarang.

23. Kalau mau teriak di lapangan aja dimana jarak ke anak kira-kira seratus meter .

24. Kembali kepada inti rumah tangga surga. Yakni kebiasaan bicara lembut. Bahkan bisik-bisik di telinga anak tumbuhkan cinta.

25. Tentu kelembutan ini bukan berarti abaikan ketegasan

26. Sebab ketegasan itu bisa dilakukan tanpa harus teriak.

27. So, jika ada yg teriak-teriak di rumah kita, katakan : ini rumah surga. Di surga bicaranya lembut. Hanya penduduk neraka yang suka teriak

28. Kesimpulannya, jika ingin memperbaiki pola asuh dan hubungan harmonis dalam rumah tangga, perbaiki cara komunikasi kita

29. Dengan perbaikan komunikasi, maka menjadi baik lah amalan kita yang lainnya (QS 33:70-71)

Semoga rumah tangga kita akan dipenuhi dengan sakinah. mawaddah, wa rahmah.

SELAMAT TINGGAL SAYANG, I LOVE YOU

Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan ku bersama suamiku. Meskipun ia menikahiku, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.

Walaupun menikah terpaksa, sikap benciku aku selalu simpan dan aku rahasiakan. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.

Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.

Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.

Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.

Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.

Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.

Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.

Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.

"Maaf sayang, kemarin Erick meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku." Katanya menjelaskan dengan lembut.

Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. "Apalagi??"

"Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?" tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena "musuh"ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.

Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.

untuk kesekian kalinya aku telepon, tiba-tiba…. teleponku diangkat juga. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, "selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak Armandi?" kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi, ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.

Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, beberapa saat kemudian terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.

Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.

Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.

Saat pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.



Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang.

Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.

Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana.

Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.

Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku berdoa karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Tuhan karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Doalah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Tuhan padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak.

Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.

Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.

Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.

Istriku Liliana tersayang,

Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.

Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.

Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukanlah banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Allah memberimu jodoh yang lebih baik dariku.

Teruntuk Sarah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu. Dan Erick, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Sarah ya. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Selamat tinggal sayang, I love you forever…….

Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.

Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.

Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.

Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku dinikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, "Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Sarah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?"

Aku merangkulnya sambil berkata "Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta."

Putriku menatapku, "Seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?"

Aku menggeleng, "bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua."

Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.

Posisi Wanita

Tiga Posisi Wanita selama hidupnya :

- Seorang Anak
- Seorang Istri
- Seorang Ibu

- Jadilah seorang Anak yang shalehah, yang membuat ridha ALLAH dan orang tuamu.

- Jadilah seorang Istri yang shalehah. Yang patuh dan taat kepada suami yang shaleh.

- Jadilah seorang Ibu yang penyayang, penyabar, guru, sekaligus teman bagi buah hatimu tercinta. 


Jadilah seorang Ibu yang sukses mengurus dan mendidik mereka.

13 SIFAT SUAMI YANG BERTANGGUNG JAWAB DALAM KELUARGA

1). Ia senantiasa mengajak isterinya untuk menjadi wanita yang selalu beriman dan bertakwa kepada-Nya.

2). Ia senantiasa berusaha menjadikan rumah sebagai surga bagi isteri dan anak-anaknya.

3). Ia senantiasa berusaha untuk bertanggungjawab atas segala kebutuhan nafkah isteri dan anaknya dengan rezeki yang halal.

4). Ia senantiasa membimbing isterinya menjadi seorang isteri yang selalu taat kepada suami.

5). Ia senantiasa bersikap ramah dan penyayang kepada isteri dan anak-anaknya.

6). Ia selalu menjaga cinta dan kasih sayangnya hanya kepada isterinya. Pantang baginya untuk mudah berpaling kepada wanita lain.

7). Ia senantiasa berusaha untuk menasehati isterinya di saat khilaf dan berbuat kesalahan. Dan tak segan-segan ia memaafkannya.

8). Ia senantiasa berusaha bersabar dalam menyikapi (misalnya) sifat buruk isterinya. Ia dengan telaten akan mengarahkannya untuk berubah menjadi lebih baik.

9). Ia senantiasa berusaha untuk lebih mengingat kebaikan isterinya dibanding dengan mengungkit-ungkit keburukannya.

10). Ia senantiasa berusaha menyelesaikan setiap permasalahan rumah tangga dengan sebaik-baiknya dan tak mudah menceritakannya kepada orang lain.

11). Ia senantiasa berusaha menjadi pemimpin yang baik dan bijak serta menjadi contoh yang baik bagi isteri dan anak-anaknya.

12). Ia selalu punya waktu untuk berkumpul santai bersama isteri dan anak-anaknya.

13). Dan ia tidak merasa berat hati untuk memberi maaf kepada isterinya jika berbuat khilaf, serta tidak merasa rendah diri untuk meminta maaf kepada isterinya jika ia berbuat khilaf.

WAKTU ISTRI SAYA DIOPERASI CESAR

Waktu istri saya dioperasi cesar, Saya berdiri tegak sebelah dokter, Melihat jelas mata kepala sejak pisau bedah menyayat perut istri, Disobeknya rahim, Kain yang dimasukkan kedalam perut, Tangan bu dokter menyelinap kedalam dan kemudian mengambil kepala bayi, Hingga dijahit laginya perut istri

Orang bilang operasi cesar lebih aman dan ga begitu menyakitkan dibanding cara lahir normal yang harus mengejan, Tapi bagi saya itu mengerikan ! Istri saya memang ga menyaksikan seluruh prosesnya, Dia sadar tapi perutnya dimasuki besi, Pisau, Jarum, Kain, Serta tangan para dokter bedah. Hebatnya dia lakukan dengan ikhlas, Rela, Sepenuhnya memikirkan kondisi bayi yang 5 hari berkecamuk didalam perut ga bisa keluar terlilit usus di kepala dan kaki kanan. Lebih baik perut diobrak-abrik daripada calon lelaki (InsyaAllah) dalam tubuhnya tumbang sebelum sempat saling bertatap mata !

Sepanjang operasi airmata saya ga terbendung. Saya ingat Ummi ! Semua pelajaran, Nasihat, Dan pepatah wajibnya berbakti para orangtua terutama ibu mengecil ga setitik debu dibanding pengalaman nyata menyaksikan sendiri perjuangan seorang ibu melahirkan anaknya !

Apalagi saya dilahirkan normal, Dengan pertaruhan lebih besar, Antara hidup dan mati, Untuk kemudian mati-matian dibesarkan yang hasilnya malah durhaka setengah mati !

Kelar operasi saya telp Ummi, Tapi kemudian saya tutup lagi. Saya masuk kamar mandi dan menangis lagi sejadi-jadinya. Mengingat semua kedurhakaan yang saya lakukan tapi selalu beliau maafkan dan lupakan seluruhnya, Baik kedurhakaan saya, Ataupun setiap kasih sayang beliau berikan tanpa pernah diungkit sedikitpun

Saya beruntung masih punya ayah dan dua ibu yang bersedia memaafkan seluruh dosa saya pada mereka. Saya beruntung masih Allah beri kesadaran bahwa sebesar apapun amal bakti seorang anak pada ibu bapaknya ga akan bisa mengalahkan pilihan yang mereka ambil waktu melahirkan sang anak :

"Lebih baik aku mati daripada anakku mati"

TIPS MERAYU ISTRI YANG SEDANG MARAH

Berikut ini merupakan beberapa tips mengatasi jikalau sang istri sedang marah"

1. Seorang istri ketika marah pasti ada alasannya,
dan hendaknya sang suami membicarakannya baik-baik apa yg menyebabkan sang istri marah, karena hal ini sangat penting.

2. ketika sang istri marah-marah di depanmu,
hendaknya suami harus terima hal itu.
Biarkanlah amarahnya reda.
Jangan pernah kamu membantahnya,
karena hal itu akan memperburuk keadaan.

no.2 ini dapat diambil pelajarannya pada kisah Umar r.a,
suatu ketika istrinya marah2, namun sang khalifah tetap diam,
dan ia hanya berkata "bagaimana mungkin aku membalas kemarahannya istriku sedangkan ia yg merawatku dan merawat anak-anakku"

3. ketika sang suami memang melakukan sebuah kesalahan yg membuat istrinya marah, hendaknya suami minta maaf dengan setulus-tulusnya dan kemudian ajaklah sang istri untuk sedikit bercanda. agar tercipta suasana yg nyaman.

4. apabila semua langkah diatas belum berhasil,
ajaklah istrimu pergi ke tempat yg spesial khusus kalian berdua,
di sana buat keadaan seromantis mungkin.
ajaklah bercanda,
dan apabila ada senyum yang terpancar dari wajahnya,
berarti sang suami telah berhasil melunakkan hati sang istri.